Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Memahami Masa Lalu Melalui Musik

Amunisi berharga untuk memahami kehidupan masyarakat era kolonial secara lebih utuh.
Judul: Recollecting Resonances: Indonesian-Dutch Musical Encounters | Penulis: Bart Barendregt dan Els Bogaerts (editor) | Penerbit: KITLV-Koninklijke Brill NV | Terbit: Pertama, 2014 | Tebal: 353 hlm.
Foto
Historia
pengunjung
2.4k

Ketika mengunjungi Maileppet di Pulau Siberut, Sumatra Barat, awal 1980-an, Gerard A Persoon heran sekaligus terkesima atas sambutan yang diberikan Asak, tetua suku. Asak menyanyikan lagu Wilhelmus, dalam bahasa setempat, khusus untuknya.

“Bagaimana mungkin lagu tersebut bisa bertahan lebih dari 40 tahun di sebuah pulau terpencil di Indonesia, yang telah ditinggalkan Belanda tahun 1942?” ujar Persoon, antropolog Universitas Leiden, dalam artikelnya di buku ini.

“Aku tak pernah menyadari ada versi lokal dari salah satu simbol terpenting identitas nasional orang lain. Mengapa seseorang mau mengingat sebuah lagu yang hampir pasti telah dipaksakan kepadanya oleh penguasa kolonial?”

Tak dikenalnya Wilhelmus versi bahasa Mentawai bukan semata disebabkan minimnya ketersediaan sumber penulisan sejarah atau kurangnya perhatian ilmuwan/sejarawan terhadap tema-tema di luar politik-kekuasaan. Tapi, menurut Bart Barendregt dan Els Bogaerts, penyunting buku ini, juga disebabkan sentimen nasionalisme kedua negara, yang membuat mereka menyaring ketat fakta-fakta sejarah. Akibatnya, teks-teks historis yang muncul tak jujur. Segala hal yang terkait keberadaan “lawan” sebisa mungkin dihilangkan dalam –bila ada, biasanya “lawan” ditulis sebagai antagonis. Fakta-fakta sejarah seperti pertemuan musik Mentawai-Belanda pun tak punya tempat. Ia akhirnya tersapu pusaran zaman dan terlupakan.

Wilhelmus versi Mentawai tak mungkin lahir tanpa ada sangkut-pautnya dengan aspek sosial-politik di era kolonial. Menurut Persoon, pertemuan musik Mentawai-Belanda –dan juga Barat lainnya– dimulai awal abad ke-20 seiring masuknya misi Kristen. Para misionaris Jerman, yang dipelopori A Lett, membawa repertoar lagu rohani dan nonrohani sebagai media penyebaran agama. Mereka lalu menerjemahkan lirik lagu-lagu itu ke dalam bahasa Mentawai agar mudah dipahami masyarakat.

Dengan terbentuknya tata pemerintahan kolonial di Mentawai pada abad ke-20, yang termasuk telat dibanding daerah-daerah lain di Nusantara, jumlah musik Belanda nonreligi meningkat. Interaksi musik Belanda-Mentawai pun kian intensif. “Musik, lagu, lirik, irama, dan alat musik Belanda juga diperkenalkan ke kepulauan melalui sistem pendidikan,” ujar Persoon.

Pemerintah juga menerjemahkan lagu-lagu ke dalam bahasa setempat. Salah satunya Wilhelmus, yang kemudian dipaksakan sebagai lagu wajib oleh pemerintah kolonial.

Lantas, kenapa lagu tersebut masih terdengar di Mentawai, sementara sejak merdeka Indonesia membuang semua hal berbau kolonial. Menurut Persoon, itu bisa terjadi karena nasionalisme tak pernah memainkan peran signifikan dalam politik lokal di Mentawai. Selain itu, tak ada orang Mentawai yang tersinggung oleh kumandang Wilhelmus yang keluar dari mulut karib atau kerabatnya.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Judul: Recollecting Resonances: Indonesian-Dutch Musical Encounters | Penulis: Bart Barendregt dan Els Bogaerts (editor) | Penerbit: KITLV-Koninklijke Brill NV | Terbit: Pertama, 2014 | Tebal: 353 hlm.
Foto
Judul: Recollecting Resonances: Indonesian-Dutch Musical Encounters | Penulis: Bart Barendregt dan Els Bogaerts (editor) | Penerbit: KITLV-Koninklijke Brill NV | Terbit: Pertama, 2014 | Tebal: 353 hlm.
Foto