Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Layar Belum Terkembang

Benarkah nenek moyang kita seorang pelaut? Ketidaktahuan terhadap masa lalu membuat kita sulit membedakan fakta dan mitos.
 
Judul: Nasionalisme, Laut, dan Sejarah | Penulis: Susanto Zuhdi | Penerbit: Komunitas Bambu | Terbit: Desember 2014 | Tebal: xvi+ 582 hlm |
Foto
Historia
pengunjung
12.1k

Angin ribut, petir, dan badai menerjang wilayah kerajaan Mataram. Pohon-pohon tumbang. Di laut selatan, ombak menggunung. Fenomena alam tak biasa itu membuat Nyai Roro Kidul sebagai penguasa laut selatan terkejut. Dia berdiri di tepi laut untuk mencari tahu penyebabnya. Dia mendapati Panembahan Senapati sedang bersemedi. Kepada sang raja Mataram itu dia memohon.

“Wahai Sang Raja, lenyapkan huru-hara yang membuat laut selatan bergolak. Segala isi laut ini Tuanlah pemiliknya. Jin dan parayangan tunduk pada segala kehendak Tuan, manusia sakti,” kata Roro Kidul sebagaimana dimuat Babad Tanah Jawi.

Susanto Zuhdi, guru besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, mengutip kisah dalam babad tersebut untuk menunjukkan salah salah satu penyebab ketertinggalan masyarakat pesisir selatan Jawa dibanding masyarakat pesisir utara dalam bidang maritim.

Mitos tentang Nyi Roro Kidul dipercaya masyarakat Jawa Tengah, khususnya Yogya, hingga kini. Dalam anggapan mereka, Roro Kidul sosok jahat dan menakutkan. Mereka juga percaya Roro Kidul pernah minta raja Mataram agar memerintahkan rakyatnya tak mengeksploitasi laut selatan. Kepercayaan itu mereka takut melaut dan mengabaikan laut. Kendati punya tradisi nelayan, mereka tetap tak meninggalkan basis agrarisnya.

Tradisi nelayan sendiri di Yogya baru muncul pada 1980-an. “Adalah nelayan dari Cilacap yang mengajari penduduk Baron, pantai selatan Kabupaten Gunung Kidul, menangkap ikan, menggantikan tradisi sebelumnya sebagai petani ladang,” tulis Zuhdi.

Selain kepercayaan mistis, konsep konsentris yang dianut penguasa Mataram ikut andil sebagai penyebab ketertinggalan. Dengan orientasi ke darat (pertanian), laut tak lagi penting untuk diperhatikan.

Pandangan itu terus diyakini dan berjalan melewati berbagai masa, hingga kini. Bahkan cakupannya terus meluas. Negara ikut berperan dengan mengarahkan orientasi pembangunan ke darat. Perhatian pemerintah lebih besar kepada petani ketimbang nelayan. Potensi laut yang sangat kaya terabaikan. Kampung nelayan dan penduduknya menampakkan wajah ketertinggalan, kekumuhan, dan kemiskinan. Budaya maritim, yang diwariskan etnis-etnis di berbagai tempat, hanya jadi pelengkap narasi sejarah bangsa. Dan pameo “nenek moyangku seorang pelaut” yang diyakini hingga kini seolah hanya ornamen tanpa makna.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Judul: Nasionalisme, Laut, dan Sejarah | Penulis: Susanto Zuhdi | Penerbit: Komunitas Bambu | Terbit: Desember 2014 | Tebal: xvi+ 582 hlm |
Foto
Judul: Nasionalisme, Laut, dan Sejarah | Penulis: Susanto Zuhdi | Penerbit: Komunitas Bambu | Terbit: Desember 2014 | Tebal: xvi+ 582 hlm |
Foto