Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 3

Kitab Mujarab Bagi Pelupa

Sebuah buku yang mengajak orang Indonesia tetap ingat Orde Baru.
 
Judul: Teror Orde Baru : Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981 | Penulis: Julie Southwood, Patrick Flanagan | Penerbit: Komunitas Bambu | Terbit: 2013 | Tebal: XXXIX + 366 |
Foto
Historia
pengunjung
25.5k

Sistem hukum Indonesia saat itu menggabungkan antara kebajikan dan teror. Bukan hanya alat untuk meneror rakyat, sistem hukum Indonesia juga merupakan sekumpulan norma dan cara memanipulasi orang per orang, juga banyak orang (hlm. 104). Dalam beberapa hal, wajah Orde Baru banyak mirip dengan wajah kekuasaan di zaman kolonial yang menginginkan “rust en orde” atau keamanan dan ketertiban. Sejatinya bukan untuk membawa rakyat kepada kehidupan yang lebih baik dan berkeadilan, namun lebih kepada mengamankan jalannya kekuasaan serta menjaga bangunan kekuasaan tak lekas runtuh.

Borok peradilan di Indonesia pada masa Orde Baru juga ditelaah oleh buku ini. Gambaran ideal ‘keadilan’ dan hukum sebagai praktiknya seringkali kontradiktif dengan apa yang kita bayangkan. Julie dan Patrick menyatakan kejengkelannya karena melihat kenyataan bahwa hukum seringkali dipasangi atribut-atribut ideal oleh mereka yang membuat, mengontrol, menerapkan dan menjalani proses hukum. Oleh karena itu, prinsip-prinsip normatif dan ideal sudah selayaknya dipisahkan dari praktik hukum sehari-hari (hlm. 181).

Oleh sebab itulah WF. Wertheim, seorang sosiolog dan aktivis terkemuka Belanda yang sangat kritis terhadap pemerintah Orde Baru mengatakan dalam pengantarnya bahwa terdapat kesenjangan antara hukum dan keadilan di Indonesia. Dengan jalan itulah hukum dijalankan pada masa Orde Baru. Penguasa berhak menafsir sendiri apa itu keadilan.

Buku ini tidak sampai membahas periode akhir Orde Baru yang bubar pada 1998. Periode pembahasannya bermula pada tahun 1965, di mana peralihan kekuasaan berawal melalui peristiwa G30S. Pembahasan berakhir pada 1981, tak lama berselang setelah pembebasan para tahanan poltik Pulau Buru.

Kesuksesan buku ini terletak pada ketajamanan analisis tentang struktur kekuasaan Orde Baru yang sepenuhnya didukung oleh kekuatan militer. Buku ini juga berhasil memberikan pemahaman tentang kenapa pada hari-hari sekarang ini sistem peradilan kita masih diwarnai oleh kebobrokan-kebobrokan. Korupsi dan kolusi menjadi ciri khas dari wajah peradilan di Indonesia dan pada buku inilah bisa ditemukan musabab dari terjadinya persoalan itu di masa kini.

Berbagai kelebihan buku itulah yang agaknya menjadi alasan kuat bagi pemerintah Orde Baru melarang terbit di Indonesia. Baru pada masa sekarang inilah, setelah pemerintah Orde Baru tinggal sejarah, buku ini bisa dibaca oleh khalayak. Namun ironisnya, sekarang, di sana sini, muncul kerinduan masa lalu Orde Baru. Dan buku ini adalah kitab pengingat bagi mereka yang lupa.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Judul: Teror Orde Baru : Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981 | Penulis: Julie Southwood, Patrick Flanagan | Penerbit: Komunitas Bambu | Terbit: 2013 | Tebal: XXXIX + 366 |
Foto
Judul: Teror Orde Baru : Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981 | Penulis: Julie Southwood, Patrick Flanagan | Penerbit: Komunitas Bambu | Terbit: 2013 | Tebal: XXXIX + 366 |
Foto