Pilih Bahasa: Indonesia
BUKU

Hikayat Para Pelancong

Para pelancong membandingkan antara etnis Melayu yang pemalas dan China yang pekerja keras.
Sampul buku "Singapura Tempo Doeloe" karya John Bastin, Penerbit Komunitas Bambu, 2011; xx + 340 halaman.
Historia
pengunjung
7k

SEJAK didirikan Sir Stamford Raffles pada 1819, Negeri Singa menarik perhatian para pelancong. Kota seluas 710.2 km2 ini jadi tempat persinggahan mereka sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah Asia lainnya. Banyak kesan istimewa dikisahkan para pelancong.

Dalam buku ini, John Bastin, sejarawan terkemuka Asia Tenggara, memilih 60 kisah menarik dari pelbagai sumber yang mampu mengajak pembaca mengikuti perkembangan Singapura sejak berdiri hingga pendudukan Jepang.

Sebagian besar pelancong datang ke Singapura dengan menumpang kapal laut. Sejumlah kecil datang dengan kereta api atau penerbangan internasional. Kebanyakan pelancong asal Eropa dan Amerika. Orang Asia biasanya melancong diam-diam sehingga tak meninggalkan bukti kunjungan ataupun tulisan tentang kesan mereka atas Singapura.

Buku ini dibuka oleh tulisan Kapten Daniel Ross (1819), pemimpin Honourable East India Company Ship (HEIC) Discovery, sebutan untuk kapal-kapal milik East India Company (EIC) atau perusahaan dagang Inggris di wilayah Hindia Belanda. Ross, bersama Letnan John G.F. Crawfurd, pemimpin HEIC Investigator, ditunjuk Raffles untuk mencari pos dagang strategis. Hasil survei mereka melambungkan optimisme Raffles akan masa depan Singapura sebagai kota perdagangan yang ramai.

Segera setelah itu, terlebih ada pernjanjian dengan Tumenggung Abdul Rahman dan Sultan Husain dari Johor, Raffles mulai menata pulaunya.

Munsyi Abdullah bin Abdul Kadir, mantan juru tulis Raffles di Melaka pada 1810-1811, mencatat perdebatan antara Raffles dan Kolonel William Farquhar, residen pertama Singapura, mengenai bagaimana membuka areal untuk permukiman dan pusat bisnis. Raffles berpendapat pusat bisnis harus ditempatkan di dekat sungai. Farquhar tak sependapat. Alasannya, daerah itu tak cocok karena berlumpur dan airnya kotor. Biaya mengeruk tanah juga mahal. “Lagipula, dari mana mendapatkan tanah yang banyak untuk meninggikan permukaan tepi sungai?”

Farquhar mengusulkan Kampong Glam.

“Jika Kampong Glam menjadi tempat bisnis, daerah ini tidak akan berkembang sampai kapan pun,” tentang Raffles.

Farquhar akhirnya mengalah. Setelah tiga hingga empat bulan, tepi sungai yang berawa-rawa dan berlumpur diratakan dengan tanah yang diambil dari bukit kecil di dekat Tanjong Singapura. Daerah yang terletak di ujung Tanjong Singapura, Lorong Tambangan, ditandai dan dilelang. Mereka mengubahnya menjadi taman. “... mereka berniat membangun gedung dan patung Tuan Raffles di sana, sebagai pengingat bagi semua orang bahwa ia telah melakukan pekerjaan yang hebat,” tulis Munsy Abdullah.

Denah Kota Singapura, yang dibuat Letnan Philip Jackson sekira 1823-1824, menunjukkan perencanaan tatakota yang baik. Pembangunan pun berlangsung cepat. “Hanya di daerah pinggir kota terdapat gubuk beratap jerami, padahal lima tahun lalu, hampir di semua bagian kota berdiri gubuk-gubuk sederhana ini,” tulis John Crawfurd, residen kedua Singapura 1823-1825, yang menjadikan Singapura sebagai daerah kekuasaan Inggris. Dia juga pernah menjadi Residen Yogyakarta ketika Inggris menduduki Jawa.

Masih menurut Crawfurd, jalan-jalan dibangun berdasarkan rancangan yang teratur dan saling bersimpangan dalam sudut siku. Jalan-jalan utama, baik di kota maupun sekeliling permukiman, dibangun dari campuran pasir, tanah liat, dan bijih besi yang tersedia dalam jumlah besar.

Pada 1885-1887, jalur tram uap dipasang. Tram uap hanya bertahan sampai akhir 1892, kalah oleh moda transportasi umum, rickshaw, yang diperkenalkan pada 1881. Trem listrik lalu diperkenalkan, tapi rickshaw tetap dapat mengimbanginya, bahkan jumlahnya meningkat. Sebabnya, rickshaw memberi petualangan tersendiri bagi para pelancong. Hotel-hotel juga dibangun. Yang menjadi favorit adalah Hotel Raffles yang dibangun Sarkies bersaudara asal Armenia pada 1887.

Terbukti, Singapura segera menjadi pusat perdagangan yang ramai. Ketika baru ditemukan pada 1819, pulau ini hanya dihuni ratusan nelayan Melayu yang merangkap sebagai perompak. Setahun kemudian, puluhan ribu ton kapal lokal dan Eropa berlabuh di sana untuk berbisnis atau memperoleh perbekalan. Tak ada pelabuhan Asia yang dapat menyamai keanekaragaman perdagangan di Singapura.

Singapura juga dikenal dengan keberagaman etnisnya. Kota ini dibagi menjadi tiga wilayah: wilayah Melayu di sebelah timur dikuasai Sultan Johor dan pengikutnya; wilayah Eropa, tempat kediaman para pedagang Eropa, kantor pelayanan publik, dan asrama tentara; serta wilayah China atau disebut juga wilayah perniagaan. Tapi populasi China adalah yang terbesar.

“Bahkan kita bisa saja menganggap Singapura sebagai bagian dari China karena sebagian penduduknya adalah orang China, dan hampir seluruh kekayaan dan pengaruh di tempat ini dipegang oleh bangsa China, di samping bangsa Inggris tentunya,” tulis Howard Malcolm, pendiri The American Tract Society, organisasi yang menerbitkan literatur Kristiani.

Etnis China juga merupakan penggerak utama roda perekonomian di Singapura. Malcolm melukiskan, “Bila berjalan-jalan di salah satu bagian kota saat jam kerja, kita akan merasa seperti sedang di China. Hampir semua toko, gudang, transaksi dagang dijalankan oleh mereka. Pedagang asongan, kuli, koki keliling, semuanya adalah bangsa China yang berseru dalam bahasa China… sedangkan mayoritas bangsa Kling (sebutan untuk orang-orang India Barat) dan Benggala bekerja sebagai pengurus kuda, tukang cuci, dan pelayan untuk bangsa Eropa. Bangsa Melayu dan Bugis mendiami bagian-bagian lain kota ini dan mendirikan permukimannya sendiri.”

Tak hanya dalam perdagangan, etnis China juga menguasai industri dan pertanian. Menurut John Crawfurd, salah satu industri terpenting adalah pembuatan sagu mutiara atau sagu putih, yang bahan bakunya diimpor dari pantai utara Sumatera. Semua pengelola parbrik sagu adalah orang China. Teknik pengolahan sagu adalah hal yang baru dan teknik ini diciptakan orang China dan kali pertama dipraktikkan di Melaka sekira tahun 1810 dan diperkenalkan di Singapura pada 1824. “Kini Singapura menjadi daerah utama pengolah sagu,” tulis Crawfurd.

Bagaimana dengan orang Eropa dan Melayu? Dalam catatan pejabat kolonial dan perwira militer Belanda Baron H.G. Nahuijs Van Burgst, yang tiba di Singapura pada Mei 1824, sedikit orang Eropa menekuni bidang agrikultur. Setelah memperoleh tanah, mereka harus menyingkirkan terlebih dahulu pohon-pohon besar. Biasanya mereka menyewa orang-orang Melayu karena mereka terampil dan menyukai pekerjaan tersebut. Pembersihan lahan tingkat lanjut, pengolahan agar layak tanam, penanaman, dan pemeliharaan perkebunan, semua diatur oleh buruh-buruh harian China. Orang-orang Melayu jarang sekali bekerja untuk orang Eropa. “Mereka terlalu malas, lamban, dan tidak suka melakukan pekerjaan harian,” tulis Van Burgst.

Sebagian besar orang Melayu yang tinggal di Singapura tunduk pada seorang Melayu bergelar Tumenggung Melayu, bekas pemimpin perompak, yang mendapat upeti dari Inggris, sejumlah uang dari tarif penyeberangan sungai, dan pajak kecil yang dia kenakan pada kendaraan penduduk lokal dan penebang hutan.

Menurut mantan awak kapal EIC George Windsor Earl, tak semua orang Melayu pemalas. Contoh buruk yang diperlihatkan para pemimpin bangsa Melayu dan anak buahnya telah menghambat kemajuan masyarakat Melayu. “Penduduk Melayu yang tinggal di wilayah kediaman para pemimpin dan pengikutnya biasanya sangat malas, sedangkan orang-orang Melayu yang datang dari negeri lain dan tidak berada di bawah kendali pemimpin-pemimpin itu adalah kelompok yang paling giat di komunitas bangsa Melayu.”

Yang menarik, jumlah perempuan di Singapura hanya seperempat dari seluruh populasi. Ini terjadi karena etnis China memiliki aturan yang melarang para perempuan untuk beremigrasi. Saking sedikit jumlah perempuan sampai-sampai William Sproston Caine, seorang anggota radikal parlemen untuk Scarborough sejak 1880 dan untuk Barrow-in-Furness, Inggris dari 1886-1892, menulis catatan “Kelangkaan Perempuan di Singapura.”

Masih banyak lagi kisah menarik dalam buku ini.

Siapa sangka, Singapura kini tetap menjadi tujuan para pelancong, termasuk dari Indonesia. Pelabuhannya juga selalu sibuk. Penduduknya tetap beragam, dan menjadikannya negara terpadat kedua di dunia. Singapura juga memainkan peranan penting dalam perdagangan dan keuangan internasional. Singapura menjadi negara paling maju di kawasan Asia Tenggara.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 35 Tahun 3
Kuliner Nusantara Rasa dan Cerita
Kali ini kami menyajikan kisah tentang makanan, tentang citarasa nusantara yang merentang sejak zaman dahulu kala. Tak hanya tentang masakan..
 
Sampul buku "Singapura Tempo Doeloe" karya John Bastin, Penerbit Komunitas Bambu, 2011; xx + 340 halaman.
Sampul buku "Singapura Tempo Doeloe" karya John Bastin, Penerbit Komunitas Bambu, 2011; xx + 340 halaman.