Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Hidup Gembira Tanpa Cemas Masuk Neraka

Ariel sukses membolak-balik isi pikiran dan perasaan pembaca buku ini dengan suguhan fakta-fakta di seputar budaya populer di Indonesia.
Judul: Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia | Penulis: Ariel Heryanto | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia | Terbit: 2015 | Tebal: xvi + 350 halaman.
Foto
Historia
pengunjung
4.3k

Menjelang bulan Ramadan tahun 2015, tetiba saja jagad alam twitter heboh. Penyebabnya adalah Lukman Sardi, aktor pemeran Kyai Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah, mengumumkan telah meninggalkan Islam untuk masuk Kristen. Pengakuannya itu diunggah di Youtube, disebarkan melalui twitter, mengundang berbagai komentar, mulai puja-puji sampai caci maki.

Salah seorang pengguna twitter, sebut saja Ade, mencuit lewat akun twitter-nya, “Jadi beneran Lukman Sardi murtad? Jadi pemeran Ahmad Dahlan malah jauh dari hidayah”. Sepintas ada yang janggal pada cuitan itu: bagaimana bisa lakon di dalam film dihubung-hubungkan dengan kehidupan pribadi sehari-hari? Seperti halnya pemeran Clark Kent dalam film Superman harus juga bisa terbang dalam kehidupan nyatanya.

Di balik cuitan yang bernada sentimen itu terdapat fenomena yang akhir-akhir ini berkembang di Indonesia: keimanan dan ketakwaan menjadi ukuran penting. Paling tidak dari penampilan luarnya. Dan gambaran seperti demikian merangsek masuk ke berbagai domain, tak terkecuali budaya populer yang kian berkembang seiring pesatnya industri hiburan di tanah air.

Sepuluh tahun terakhir, tontonan bernafaskan agama marak di televisi. Film atau sinetron yang berangkat dari tema-tema keagamaaan bukan saja menyampaikan pesan-pesan kesalehan pada pemirsanya tapi juga ternyata laris di pasaran. Bahkan kisah-kisah dari sebuah majalah Islam segera tenar ketika diangkat ke layar televisi, walaupun dari judulnya, sinetron itu lebih terlihat sebagai film horor daripada dakwah. Misalnya, Kuburan Penuh Lintah, Suka Ngomongin Orang dan Menjilat Bos Saat Maut Wajahnya Berubah Menjadi Babi atau Ulat Keluar dari Mulut Jenazah.

Fenomena itulah yang dibongkar oleh Ariel Heryanto dalam buku terbarunya Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar di Indonesia. Alih-alih memosisikan Islam berhadap-hadapan dengan komersialisasi simbol-simbol religiositas dalam budaya populer, Ariel mengusulkan pentingnya memahami debat tersebut sebagai bagian dari dialektika antara bagaimana ketaatan beragama menemukan perwujudan dalam sejarah kapitalisme industrial Indonesia yang spesifik, dan bagaimana logika kapitalis memberikan tanggapan terhadap pasar yang sedang tumbuh bagi revitalisasi dan gaya hidup Islami (hlm. 39).

Untuk mendekati persoalan di Indonesia, Ariel meminjam telaah Asef Bayat atas fenomena budaya populer di Iran, Mesir dan banyak negara lain di Timur Tengah. Berbeda dari Bayat yang menelaah perkembangan budaya populer di negeri-negeri yang diperintah oleh rezim Islamis, Ariel sedikit memodifikasinya untuk keperluannya membedah fenomena budaya pop di Indonesia.

Perjalanan historis Iran berbeda dengan Indonesia, di mana pemerintahan Islam tak pernah resmi berkuasa di negeri ini. Namun ekspresi budaya populer pasca-Islamisme di Iran, membantu Ariel memahami apa yang terjadi di Indonesia. Tak seperti yang ditemukan Bayat di Timur Tengah, ketakwaan post-Islamisme di Indonesia menjadi kencenderungan kultural dan moral bertumbuh dari kebangkrutan tindakan represif rezim otoritarian Orde Baru yang sekuler.

Dari sana Ariel bergerak, menelisik apa yang sebenarnya terjadi pada budaya populer yang berkembang di Indonesia. Ada banyak hal menarik yang disorotinya, tentang bagaimana tabu di dalam layar tontonan merupakan cerminan kehidupan yang berlaku di bawah sebuah rezim.

Menurutnya, pada masa Orde Baru mustahil sebuah film menayangkan adegan seorang petugas pemerintah menerima sogokan sebagaimana yang ditunjukan dalam film Ada Apa Dengan Cinta? pada 2002. Sementara itu zaman sekarang, menampilkan adegan pemuka agama Islam sebagai tokoh antagonis sama artinya dengan bunuh diri.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Judul: Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia | Penulis: Ariel Heryanto | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia | Terbit: 2015 | Tebal: xvi + 350 halaman.
Foto
Judul: Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia | Penulis: Ariel Heryanto | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia | Terbit: 2015 | Tebal: xvi + 350 halaman.
Foto