Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Adopsi demi Integrasi

Ribuan anak Timor Leste dibawa ke Indonesia semasa perang. Ada yang jadi orang ternama, namun sebagian besar terjebak dalam trauma masa silam.
Judul: Making Them Indonesians, Child Transfer Out of East Timor | Penulis: Helene van Klinken | Penerbit: Monash University | Terbit: 2012 | Tebal: 212 halaman.
Historia
pengunjung
5.7k

Beragam Motif

Di Timor Leste maupun di Indonesia, mengadopsi anak adalah lazim dan biasanya terjadi di antara keluarga dan kerabat dengan alasan ekonomi. Pokok buku ini bukan tradisi ini, melainkan transfer anak di masa perang dengan motif dan cara berbeda-beda.

Adopsi ini kadang diformalkan dengan imbalan uang dan beras, atau dengan dokumen. Namun persetujuan orangtua layak diragukan karena mereka mengira dokumen itu memastikan sang anak akan kembali selepas sekolah tapi nyatanya tak pernah terjadi. Dalam banyak kasus, orangtua biologis akhirnya kehilangan kontak dengan orangtua adopsi.

Tekanan sosial, penindasan, dan ketakutan diduga melatari motif transfer anak. Namun, bukan mustahil, ada orangtua yang berharap masa depan anaknya menjadi lebih baik. Yang pasti, suasana putus asa yang meluas di tengah perang mendorong orangtua Timor menyerahkan anak mereka. Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mencatat sebanyak 4.534 anak diangkut ke Indonesia sejak 1975 hingga 1999.

Salah satunya Biliki. Putri desa terlahir pada 1969 ini berasal dari keluarga petani. Ketika tentara Indonesia masuk pada 1975, dia ikut pamannya masuk hutan. Setelah menyerah, dia tinggal di sebuah gedung di Ainaro yang merangkap rumah dan sekolah. Pamannya memintanya menjauhi tentara Indonesia yang menjaga kompleks tersebut.

Suatu hari seorang anggota Kopassus (kala itu RPKAD) mengajak Biliki dan teman-temannya naik truk. Dengan helikopter, Biliki dibawa ke tangsi Taibesi, Dili, sempat lari tapi diambil lagi. Akhirnya dia hidup di kompleks Kopassus di Cijantung.

Di masa Orde Baru, dia ingin mencari orangtuanya di Timor Timur, tapi takut. Melalui Komisi Kebenaran Penerimaan dan Rekonsiliasi (CAVR), Mei 2004, Biliki kembali, namun sulit untuk hidup di sana. “Saya orang Timor Leste walaupun tumbuh dewasa di Indonesia dan berkewarganegaraan Indonesia,” ujarnya.

Kata-kata teguh Biliki ini menyingkap hasrat identitas anak transfer yang tak lekang sekalipun riwayat pribadi dan bangsanya pernah tergores penjajahan. Ada yang namanya diubah, di-Indonesia-kan, bahkan ada yang (harus) berganti agama.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Judul: Making Them Indonesians, Child Transfer Out of East Timor | Penulis: Helene van Klinken | Penerbit: Monash University | Terbit: 2012 | Tebal: 212 halaman.
Judul: Making Them Indonesians, Child Transfer Out of East Timor | Penulis: Helene van Klinken | Penerbit: Monash University | Terbit: 2012 | Tebal: 212 halaman.