Pilih Bahasa: Indonesia

Tergoda Chevy

Sporty tapi anggun. Mobil ini juga kerap tampil dalam film-film beken produksi Hollywood. Tak salah jika ia menjadi mobil paling diburu para kolektor.

Foto
Historia
pengunjung
6k

SUATU hari, di tahun 1974, Ermin S. Nasution ditugaskan kantornya, Otis Coorporation, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, ke Amerika Serikat. Di sana dia sempat berkunjung ke sebuah bengkel di California yang biasa merestorasi mobil kuno menjadi berpenampilan apik kembali. Ermin terinspirasi. Niatan untuk memiliki mobil kuno terbesit di hatinya.

Sekembalinya dari Amerika pada 1988, Ermin segera menunaikan niatnya. Melihat “bangkai” Chevrolet Bel Air ’55 tergolek di kawasan Duren Sawit, Jakarta, tanpa pikir panjang dia membelinya. Ermin merogoh kocek Rp 3,5 juta. Sejak itu satu per satu mobil kuno mengisi ruang koleksinya. Jenis muscle car jadi pilihan utamanya.

“Saya melihat mobil kuno klasik itu memiliki keindahan tersendiri yang tak dimiliki mobil-mobil baru. Tak membosankan,” ujar Ermin yang kini menjabat direktur utama ProwellEnergy, perusahaan yang bergerak di bidang penyedia alat pertambangan. “Selain itu mobil kuno kan semuanya masih mechanical ya, belum computerize, jadi kita sebagai penggemar bisa memiliki hubungan tersendiri dengan mobil yang kita miliki.”

Seperti halnya penggemar mobil kuno kebanyakan, Ermin memilki kebiasaan membeli mobil kunonya dalam bentuk “bahan” atau rongsokan, sehingga masih perlu kerja keras lagi untuk membangunnya menjadi sebuah mobil siap pakai. Namun menurut Ermin justru di situlah letak kenikmatannya. Berbekal pendidikan teknik dan hobi mengutak-atik mesin, Ermin turun tangan langsung merestorasi mobil kunonya.

“Paling cepat biasanya selesai dalam waktu enam bulan. Untuk biaya ya bisa sampai 200 juta atau lebih,” kata Ermin.

Ermin senang memodifikasi mobil dengan konsep hot rod yang cukup populer di Amerika. Ciri utamanya pada penggunaan mesin lebih bertenaga daripada mesin aslinya.

Dengan balutan warna merah, pahatan-pahatan pada bodi yang membentuk tampilan sporty nan klasik tampak begitu menggoda. Bukan sekadar macho, kesan anggun, elegan, dan mewah pun mengaura kuat. Wajar saja jika di antara puluhan koleksi mobil kunonya, Ermin S Nasution lebih menaruh hati pada salah satu koleksi mobilnya: Chevrolet Bel Air ’57 convertible.

“Bel Air ’57 itu saya dapatkan di daerah Duren Sawit, Jakarta, saya membelinya di sekitar tahun 1995. Mobil itu mobil kuno keempat yang saya beli. Harganya lumayan mahal, 197 juta rupiah. Itu masih dalam bentuk bahan loh, belum jadi,” kata Ermin.

Meski ia merupakan generasi kedua, Bel Air ’57 tergolong istimewa ketimbang varian lainnya. Di balik bonetnya ia menyimpan mesin V8 berkekuatan 4.640 cc. Dengan menyemat teknologi “Super Turbo Fire V8”, mesin itu mampu memproduksi tenaga sebesar 283 hp. Pengapian mesin V8 pun ditawarkan dengan menganut sistem kerja full injection. Spesifikasi mesin inilah yang membuat Bel Air ’57 jadi istimewa, karena varian Bel Air lainnya hanya menggunakan mesin dengan sistem kerja karburasi.

“Kalau Bel Air ’57 milik saya menggunakan mesin V8 yang sudah di upgrade. Daya pacunya mencapai 5.700 cc,” kata Ermin.

Bel Air ’57 tergolong salah satu mobil Amerika paling dikenal sepanjang masa. Berbekal berbagai keistimewaan spesifikasi yang dimiliki, terutama jenis convertible dan sport cuope menjadi incaran para kolektor. Chevrolet Bel Air ’57 convertible dianggap sebagai koleksi bergengsi.

Ruang kabin yang lapang, cepat dan bertenaga namun hemat bahan bakar, pahatan khas berpola sirip ikan hiu pada bodi belakang, polesan krom pada pelek, grill, dan beberapa bagian bodi lainnya, serta tampilan lampu depan beraksen klasik adalah ciri khas milik Bel Air ’57. Selain tentunya penggunaan pelek roda 15 inci membuatnya jadi terlihat lebih ceper dan makin bergaya.

“Butuh waktu satu tahun untuk merestorasi Bel Air ’57 milik saya hingga mencapai titik sempurna. Biaya untuk membangun menguras dana sebesar Rp 250 juta. Ya jika ditotal-total, dari rongsok hingga baru kembali, menghabiskan dana sekitar Rp 450 jutalah,” ujar Ermin.

Daya tarik Bel Air ’57 jadi kian kuat karena tampangnya kerap tampil di film-film beken produksi Hollywood. Elvis Presley dan Marylin Monroe pun kerap tertangkap mengendarainya. Saking populer, Bel Air ’57 hingga kini dikenal sebagai salah satu ikon otomotif dunia.

“Saya suka Bel Air ’57 karena gaya klasiknya begitu kental. Selain itu mesinnya bandel. Biaya untuk membeli dan merestorasinya memang cukup mahal, pun memakan waktu cukup lama. Namun jika sedang melihat, mengelus, dan mendengarkan suaranya, semua itu serasa terbayar lunas,” tutur Ermin yang hingga saat ini sudah mengoleksi lima buah mobil Chevrolet jenis Bel Air ’55 dan dua Bel Air 57.

Kadung jatuh cinta dengan mobil kuno, atas saran seorang teman, Ermin bergabung dengan Persatuan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI), yang dirintis mantan Gubernur Jawa Barat Solihin GP, pada 2002. Di komunitas itu dia sempat jadi ketua DKI Jakarta. Kini dia menjabat sebagai dewan pengawas.

“Di PPMKI kita bisa berbagi informasi mengenai mobil kuno. Selain itu kita juga sering touring, ya pas di jalan itu mobil suka mogok dan kita harus berhenti memperbaikinya. Repot memang, tapi di situlah justru letak kesenangannya. Di saat touring ke daerah kita biasanya sempatkan mencari onderdil,” kata pria kelahiran Sumatera Utara 58 tahun silam ini.

Saat bergabung dengan PPMKI, dia baru memiliki dua mobil klasik. Lama-lama koleksinya bertambah. Kini Ermin memiliki 30 mobil kuno dari beragam jenis dan merek. Paling banyak merek Chevrolet, garapan pabrikan General Motor. Ada 15 varian mobil Chevrolet di koleksinya. Selebihnya, Ford sedan tahun 1940, Olds Mobil, Chrysler, Playmouth, Dodge, Austin hingga Morris, semuanya merek keluaran pabrikan Amerika. Ermin memang pecinta berat mobil kuno keluaran pabrikan Amerika. Untuk menyimpan koleksi mobil kuno, dia membuat galeri khusus di daerah Cikarang.

Kenapa Chevrolet mendominasi? Selain termasuk koleksi bernilai tinggi (highclass collection), kata Ermin, mobil tersebut memiliki cita rasa seni tinggi. ”Pembuatannya detail, bentuknya juga elegan dan sangat indah.”

Alasan lain, Ermin sering bolak-balik Indonesia-Amerika. Dengan koneksi luas di negeri Paman Sam dia jadi memiliki akses untuk mendapatkan suku cadang Chevrolet yang sudah tak diproduksi lagi.

Sebagai bentuk kecintaan pada segala hal yang berbau otomotif, Ermin memiliki sebuah kafe bernama Hot Rod di Jalan Raya Pangeran Antasari, Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Kafe ini menggabungkan konsep restoran dengan dunia otomotif.

Ermin punya mimpi yang belum terwujud. Bersama teman-teman di PPMKI, dia ingin mendirikan sebuah Museum Mobil Tua Indonesia. “Sekitar tahun 2012 semoga Museum Mobil Tua akan terealisasi di sekitar Kota Tua. Namun saat ini masih menunggu keputusan Pemerintah Kota Jakarta,” ujarnya.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda

Foto

Foto