Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Setetes Hikayat Kopi Toraja

Khasanah kekayaan kopi Nusantara. Diperkenalkan orang-orang Gowa, ditanam di Toraja dan jadi primadona dunia.
Beberapa pekerja sedang menyortir kopi di sebuah perusahaan di pantai barat Sumatra, sekitar 1920.
Foto
Historia
pengunjung
57.9k

JABIER Amin selalu bahagia dan senang ketika melihat hamparan kebun, memeriksa pohon-pohon, menelisik buah, mengawasi pemetik hingga proses pemilahan biji kopi. Ia kini berusia 61 tahun, dan mulai bertanya-tanya pada diri sendiri tentang pesona kopi, yang membuatnya selalu lupa, jika pagi bisa beranjak sore.

Dia alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan bekerja di PT Toarco Jaya, anak perusahaan Key Coffee yang berasal dari Jepang. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 1976 di Toraja. Jabier mencintai pekerjaannya dan tak sedikitpun terpercik dalam hati untuk mencari penghasilan lain. Bekerja sebagai seorang ahli tanaman kopi di atas puncak pegunungan Padamaran, Kabupaten Toraja Utara. Menurutnya, kebun kopi ibarat lahan praktek yang menggiurkan.

“Saya bersentuhan langsung dengan tanah. Teori-teori yang saya dapatkan di kampus saya praktekkan,” katanya. “Apakah ada kebahagiaan lain ketika bekerja sesuai dengan jurusan dan kemauan. Saya kira tidak.”

Jabier berada di ruang kerjanya di Rantepao saat saya temui. Dia baru saja kembali menemani beberapa orang Jepang berkeliling kebun. Tak terlihat raut kelelahan di wajahnya, bahkan dengan penuh semangat dia berkisah.

Jabier Amin adalah seorang teman ngobrol yang asyik. Tak butuh waktu lama bagi setiap orang akan dengan cepatnya jatuh cinta pada kopi. “Coba kau hirup dulu, kemudian cicipi. Bagaimana rasanya?,” katanya. “Ada asam, sedikit pahit, tapi tak membuat tenggorokan gatal,” kata saya. “Sekarang kau campurkan gula dan rasakan perubahan rasanya,” lanjutnya.

Saya menolak dengan halus, bagi saya mencicipi kopi yang enak tak harus menggunakan gula. “Apakah ini Arabica?,” tanya saya. “Ya ini Arabica. Di sini kita tak bicara tentang Robusta. Kamu tahu, orang Jepang dan beberapa penikmat (bukan peminum) kopi di negara mana pun, saat mencicipi kopi memang tak menggunakan gula. Karena dapat merusak citarasa. Dan inilah yang membuat Kopi Toraja terkenal,” kata Jabier Amin.

Saya tertegun agak lama, dan dengan alasan itulah mengapa saya mengunjungi Toraja untuk melihat langsung rupa dan wujud kopi yang sejak berabad-abad lalu telahmenjadi buah bibir masyarakat di Nusantara. “Om tahu (saya menyapa Jabier Amin dengan kata Om), di Makassar warung kopi menjamur dengan hebat. Dan setiap warung kopi mengatakan kopi mereka berasal dari Toraja,” kata saya.

Jabier Amin tersenyum. Apakah itu jawaban yang sinis, atau jawaban gembira. Tak ada yang pasti.

Di Makassar, booming warung kopi terjadi pada 2005. Menggunakan bangunan ruko atau pun rumah-rumah sederhana. Tampilan dan desain seadanya, meja ditata berhadap-hadapan dengan kursi plastik, dengan pelanggan yang berjubel dari semua kalangan usia dan pekerjaan. Namun, tak ada yang dapat menghitung jumlah pasti warkop yang tumbuh di Makassar. Beberapa orang hanya bisa memperkirakan; mencapai ratusan bahkan menghampiri seribu kedai.

Dari puluhan warkop yang saya datangi, si pemilik selalu punya jawaban seragam; bahan baku kopi berasal dari Toraja. Ironisnya saya tak menemukan satu pun dari mereka yang mampu menjelaskan, mengapa kopi Toraja begitu populer?

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda
Beberapa pekerja sedang menyortir kopi di sebuah perusahaan di pantai barat Sumatra, sekitar 1920.
Foto
Beberapa pekerja sedang menyortir kopi di sebuah perusahaan di pantai barat Sumatra, sekitar 1920.
Foto