Pilih Bahasa: Indonesia

Mengenang Batik Kenangan

Bukan seperti batik kebanyakan, batik bermotif militer ini menjadi kenang-kenangan bagi tentara Belanda.
 
Batik motif militer Belanda.
Historia
pengunjung
731

KAIN batik itu berbentuk persegi dan berukuran setengah meter. Motifnya unik. Gambar pesawar temput. Pasukan penerjun payung. Juga peta Jawa dan Sumatra. Tergores keterangan “Djogja 19-12-1948”, yang merupakan tanggal pendaratan pasukan bernama Parachutisten Compagnie (kompi penerjun) di Jawa.

Pada batik lain, kali ini berbentuk diagonal, terdapat gambar dua tentara Belanda bersenjata dengan latar lanskap gunung dan sawah di Jawa. Pada bagian atas kain terdapat logo emblem divisi “7 Desember”, salah satu divisi yang berperan dalam agresi militer Belanda. Sedangkan pada bagian bawahnya terdapat angka tahun 1946-1949, menunjukkan masa dinas tentara itu selama di Indonesia. Pada bagian tengah, terdapat tulisan “Ter Herinnering aan Mijn Diensttijd op Java” yang artinya Mengenang Masa Dinas Saya di Jawa.

Kedua batik bermotif militer itu merupakan memorabilia milik para tentara Belanda untuk mengenang masa tugasnya di Indonesia. Mereka memesannya, ada juga yang diberi, ketika melakukan patroli. Menurut R.J. de Sturler Boekwijt, peneliti Museum Tentara dan Senjata (Koninklijk Leger- en Wapenmuseum) di kota Delft, hal itu sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan tentara Belanda. “Tradisi mengenang ini bervariasi, mulai dari lukisan-lukisan, potret, sampai kotak tembakau berhias ukiran,” tulis R.J. de Sturler Boekwijt dalam “Ter Herinnering aan Mijn Diensttijd in Nederlandsch-Indië”, dimuat di Armamentaria edisi 31, tahun 1996.

Untuk mempercantik, pengrajin batik menambahkan ornamen-ornamen khas batik pesisir pada bagian tepi. Seringkali juga gambar wayang. “Agar tidak ada tempat yang kosong maka pembatik mengisi sisa kain dengan gambar-gambar wayang,” tulis majalah Wapenboeders, 2 Desember 1948.

Perpaduan dua budaya ini menghasilkan sebuah motif batik yang unik.

Perpaduan unsur Indonesia dengan unsur Belanda sebenarnya sudah terjadi sejak pertengahan abad ke-19. Nona Von Franquemont, pada 1870, mempopulerkan penggunaan unsur Belanda pada batik. Dia menggunakan aneka warna mencolok pada desain batik buatannya. Ini dianggap kurang lazim dalam pembuatan batik masa itu, terutama jika merujuk batik Yogyakarta dan Surakarta.

Muncul reaksi keras terhadap corak batik Von Franquemont. G.P. Rouffaer, peneliti batik asal Belanda, salah satu yang melontarkan kritik. “Sebab alih-alih orang Belanda sendiri memiliki selera aristrokratis sehingga secara setara mengunggulkan corak warna batik Vorstenlanden(Yogyakarta dan Surakarta) yang teduh, kebanyakan dari mereka, sama saja dengan orang Cina dan kaum pribumi bukan Jawa, lebih menyukai kain-kain mencolok yang dibuat di kawasan pantai (pesisir),” tulis G.P. Rouffaer dalam De Batikkunst in Nederlandsch Indie en haar Geschiedenis.

Batik desain Von Franquemont yang paling terkenal bergambar kisah Roodkapje (Si Tudung Merah) dan serigala. Batik ini memiliki warna dominan merah dan digambar dengan menggunakan canting. Nyatanya, Von Franquemont membuat batik dongeng ini untuk konsumen Eropa. “Von Franquemont lantas menampilkan gambar-gambar dongeng Eropa untuk kelompok-kelompok Eropa konsumen batiknya,” tulis Harmer C. Veldhuisen dalam Batik Belanda 1840-1940.

Banyak cerita yang tergambar dalam batik militer pesanan tentara Belanda, terutama mengenai masa dinas di Indonesia. Dari gambar emblem yang menjelaskan darimana asal divisi mereka, tanggal atau tahun mula hingga akhir masa dinas, hingga peta beserta nama-nama kota yang mereka lewati semasa dinas di Indonesia.

Di Balik Batik Militer

Setelah mendengar berita kekalahan Jepang, pasukan Belanda yang tergabung dalam pasukan Sekutu berusaha kembali menguasai Indonesia. Belanda mengirimkan pasukan Light Infantry Battalion (LIB), yang dilatih di Inggris. Personel pasukan LIB terdiri dari tentara kerajaan dan sukarelawan perang yang diberi nama batalion OVW (Oorlogsvrijwilligers) –total 24 batalion OVW.

Pada 12 Oktober 1945 batalion OVW pertama diberangkatkan dari Inggris. Nyatanya, batalion OVW tak bisa masuk ke Indonesia. Inggris melarang. Sebagai penanggungjawab Sekutu dalam pelucutan tentara Jepang serta penjaga perdamaian dan ketertiban, Inggris takut akan meningkatnya eskalasi konflik, terutama pasca-Pertempuran Surabaya.

“Inggris memaksa batalion-batalion OVW untuk tinggal di Malaka selama beberapa bulan. Musim semi tahun 1946 mereka diizinkan untuk mendarat di Jawa dan Sumatra,” tulis R.J. de Sturler Boekwijt.

Selama perang, pengiriman pasukan OVW terus dilakukan. Hampir setiap tahun, pasukan OVW dikirim ke Indonesia. Pasukan OVW terakhir dikirim pada November 1947, tiba di Indonesia pada Februari 1948. Selama 1945-1949, tercatat 125.000 pasukan OVW dikirim ke Indonesia. Mereka tersebar ke dalam beberapa angkatan: Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Tentara Hindia Belanda (KNIL). Dari sejumlah pasukan itu, sebanyak 7 brigade dibentuk.

Di Indonesia, tentara gabungan kerajaan Belanda ditugaskan menguasai berbagai daerah penting. Serangkaian pertempuran pun terjadi, terutama di Jawa. Namun, di balik serangkaian pertempuran, terjadi pula interaksi antara tentara Belanda dan rakyat Indonesia, termasuk karena batik. Tentara-tentara Belanda yang melintasi daerah-daerah sentra pembuatan batik, seperti Pekalongan, Banyumas, Cirebon, dan Garut, tertarik membuat batik dengan motif pilihan mereka sendiri. Mereka ingin menjadikannya sebagai kenang-kenangan dari tanah Indonesia, atau sekadar sebagai hadiah bagi atasan mereka di Belanda. Ada pula yang menggunakannya untuk syal, penutup mulut dan hidung, dan sapu tangan.

Karena banyak tentara yang memesan, beberapa pengrajin berinisiatif membuat batik militer tanpa menunggu pesanan. Mereka menggunakan motif yang banyak dipesan tentara Belanda, yaitu motif dengan emblem divisi kesatuan. Motif ini sangat digemari prajurit Belanda.

Terkadang, kain batik itu dibuat sebagai persembahan terima kasih kepada tentara Belanda. Dalam sebuah rubrik foto di majalah Wapenbroeders tanggal 15 Agustus 1948 muncul sebuah foto dengan teks: “Sebuah kain yang indah diberikan oleh wedana di Ambarawa kepada ‘het Amsterdamse bataljon –batalion Amsterdam’ 2-7 RI sebagai ucapan terima kasih untuk segala tugas yang dilakukan oleh batalion.”

Kain batik militer juga dibuat dalam konteks peringatan, peristiwa, atau aksi. Pada majalah Wapenbroeders tanggal 30 Desember 1948, muncul sebuah foto dua prajurit Belanda dengan kain yang sepertinya batik disertai teks: ‘Vertraagde thuisvaart’ (Kepulangan yang tertunda) dan sebuah sajak. Pada kain tersebut terdapat emblem OVW dan emblem batalion 2-10 RI dengan teks ‘Wegen overweldigend success 1 jaar geprolongeerd’ (diperpanjang karena keberhasilan besar selama 1 tahun).

Popularitas batik militer mendapat tanggapan. Muncul teguran kepada para tentara agar tak melupakan tugas utamanya sebagai tentara Belanda. Mengingat tujuan utama mereka di Indonesia bukan untuk bervakansi. Ada juga yang mengkritik desainnya. “Di Banyumas, salah satu pusat industri batik penting, kain-kain dibatik khusus untuk militer Belanda. Kain-kain batik itu mengerikan. Desainnya mungkin datang dari seorang prajurit penuh imajinasi yang ingin memiliki kenangan permanen terhadap operasi militer yang dilakukan brigadenya,” tulis Wapenbroeders, 2 Desember 1948.

Memorabilia

Ketika Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949, berakhirlah masa dinas tentara-tentara Belanda di Indonesia. Mereka kembali ke negeri asal dengan membawa batik militer sebagai buah tangan. Beberapa tentara menyerahkan batik-batik itu kepada pemerintah kota Amsterdam, yang kemudian menyimpannya di Koninklijk Leger- en Wapenmuseum di kota Delft. Sebagian lainnya tetap menjadi koleksi pribadi.

Seorang kolektor asal Amsterdam bernama C. van Ekeris, memburu batik-batik militer yang masih tersebar di antara mantan tentara Belanda yang pernah bertugas di Indonesia.

Pada 1998, Koninklijk Leger- en Wapenmuseum menggelar pameran batik militer. Pameran itu bertajuk “Soldatensouvenirs in Batik” (Batik Cinderamata Tentara). Sekira 170 batik militer dipamerkan, yang berasal dari koleksi museum, van Ekeris, serta koleksi pribadi mantan prajurit Belanda.

Semua koleksi itu kini tersimpan rapi di Koninklijk Leger- en Wapenmuseum di kota Delft, Belanda.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Batik motif militer Belanda.
Batik motif militer Belanda.