Pilih Bahasa: Indonesia

Melacak Maestro Lukis Indonesia

Maestro seni lukis Indonesia ini sadar media. Prestasi hingga kontroversi menghiasi berbagai media baik dalam maupun luar negeri.
 
Basoeki Abdullah (kiri), S. Sudjojono (tengah), Affandi (kanan) melukis bersama di Pondok Putri Duyung, Ancol pada 1985.
Foto
Historia
pengunjung
1.2k

MUSEUM Basoeki Abdullah menggelar pameran dokumentasi sang maestro dari 7 November hingga 22 November 2017. Sejumlah arsip yang dipamerkan antara lain surat pribadi, surat tagihan, undangan/katalog pameran, laporan kekaryaan lukisan, informasi pribadi, pesan tertulis pelukis, catatan harian, fotografi, sampul majalah, kartu pos, poster, materi iklan produk, buku-buku dan kliping berita surat kabar.

Menurut Mikke Susanto, kurator pameran, dibutuhkan tenaga, waktu yang memakan waktu beberapa tahun, dan kesabaran tinggi dalam melacak dokumentasi Basoeki Abdullah. Hal terindah dari proses pelacakan justru karena kepopulerannya. Selama hidupnya Basoeki Abdullah kerap menjadi berita media massa. Dari sejumlah mitra kerja pameran ini terkumpul lebih dari 200 judul kliping media massa.

“Nah, itu yang mendorong saya selaku kurator untuk bisa memperlihatkan kepada publik bahwa ini ada seniman yang sadar masa depan. Dia melek media karena pergaulan internasional. Beliau mampu menjadikan media jadi bagian dari bisnisnya,” ujar Mikke.

Menurut Hilmar Farid, direktur jenderal kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tindak tanduk Basoeki Abdullah sering menjadi konsumsi media dan ditunggu-tunggu masyarakat. Tak terhitung berapa judul berita dari dalam dan luar negeri yang menceritakan sosok Basoeki Abdullah, mulai dari prestasinya hingga berita-berita miring mengenai dirinya. Bahkan hingga akhir hidupnya, Basoeki Abdullah pun tak lepas dari kontroversi.

“Seolah-olah sepanjang hidupnya Basoeki Abdullah ditakdirkan tak akan pernah lepas dari perhatian media,” kata Hilmar Farid dalam sambutannya.

Mikke melacak dokumentasi Basoeki Abdullah dalam berbagai media majalah: Djawa Baroe, Varia, Selecta, Tempo, Popular, Jakarta-Jakarta, Tiara, Prospek, Tata Rias, dan harian Kompas. Sayangnya, dokumentasi pribadi kebanyakan sudah hilang atau berkualitas buruk. Semua dokumen yang berhasil dikumpulkan dibagi ke dalam empat bagian: Aku, Daya, Rupa, dan Masyhur.

“Berbagai kisah tentang kehidupannya, baik kisah cinta, kedekatan dengan banyak wanita, isu negatif dan kesuksesannya tentunya membuat penasaran,” ujar Maeva Salmah, kepala Museum Basoeki Abdullah di Jalan Keuangan Raya Nomor 19, Cipete, Jakarta Selatan.

Keempat bagian pameran tersebut memiliki hal-hal menarik yang ditampilkan. Seperti bagian “Aku” terdapat arsip berupa surat dari Gunseikanbu atau staf pemerintahan militer Jepang di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 36. Surat tersebut meminta Basoeki Abdullah untuk mengisi daftar riwayat hidup guna penyusunan Daftar Orang Indonesia yang Terkemoeka di Djawa pada 1943.

“Basoeki Abdullah ini memang sudah terkenal. Di masa Jepang, yang mengunjungi pameran tunggalnya bisa lima ribu orang. Hari ini, mengumpulkan lima ribu orang itu gak gampang, padahal sudah ada media sosial,” ujar Mikke.

Pada bagian “Daya” tergelar beberapa foto proses kreatif Basoeki Abdullah saat sedang melukis. Seperti saat dia melukis Wakil Presiden Mohammad Hatta pada 1950-an serta melukis Presiden Soeharto dan istrinya di Jalan Cendana tahun 1968. Yang menarik adalah saat dia, S. Sudjojono dan Affandi, melukis dalam satu kanvas pada Oktober 1985. Menurut Mikke, foto ini menandakan bahwa Basoeki Abdullah sudah diterima oleh Sudjojono dan Affandi.

“Saat di Indonesia terjadi agresi militer, dia malah ke negeri Belanda. Dia pun dituduh anasionalis. Lalu ketika dia melukis Ratu Juliana, di sini justru sedang berkobar perang melawan Belanda. Problem hidupnya memang besar. Lalu dituduh gak ada orientasi idealisme terhadap seni rupa Indonesia, apalagi lukisan mooi indie-nya amat sangat membuat dia menjadi sendirian,” ujar Mikke.

Selanjutnya bagian “Rupa” berisi dokumentasi karya-karya lukisan Basoeki Abdullah dalam beragam tema. Mulai dari sketsa potret Sukarno yang menjadi ilustrasi perangko tahun 1960, lukisan Jenderal Hitoshi Imamura, panglima Tentara ke-16 Angkatan Darat Jepang, yang menjadi sampul majalah Pandji Pustaka edisi September 1943.

Pada bagian terakhir, “Masyhur,” berisi dokumentasi sepak terjangnya dalam beragam pameran dan keluasan hubungannya dengan orang-orang ternama seperti pameran di Hotel Des Indes tahun 1956, pameran tunggal di Thailand yang dihadiri Raja Bhumibol Adulyadej, hingga wajah Basoeki di iklan mobil Mitshubishi Lancer 1400 SL di harian Sinar Harapan, Oktober 1981.

“Sekali waktu kami jalan-jalan nah melihat iklan mobil ini. Bapak bilang kok foto wajahnya lebih besar dari foto mobil yang diiklankan,” ujar Cicilia Sidhawati, putri Basoeki Abdullah dengan istri keempatnya asal Thailand, Nataya Narerat.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Basoeki Abdullah (kiri), S. Sudjojono (tengah), Affandi (kanan) melukis bersama di Pondok Putri Duyung, Ancol pada 1985.
Foto
Basoeki Abdullah (kiri), S. Sudjojono (tengah), Affandi (kanan) melukis bersama di Pondok Putri Duyung, Ancol pada 1985.
Foto