Pilih Bahasa: Indonesia
Edhi Sunarso

Makanan Jiwa dari Sang Pematung

Masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta, lebih mengenal karya-karyanya ketimbang namanya.

Ilustrasi
Historia
pengunjung
6.6k

BAGI sebagian besar warga Jakarta, patung Selamat Datang di bundaran Hotel Indonesia, patung Dirgantara di Pancoran, atau patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng tentu tak asing lagi. Seniman Edhi Sunarso menjadi pelaksana penggarapan ketiga patung monumental tersebut.

Lahir di Salatiga, 2 Juli 1939, perjalanan Edhi di dunia seni menyimpan kisah unik. Dalam katalog pameran “The Monumen”, digelar di Galeri Salihara, Agustus 2010, Edhi menceritakan, menjadi seniman tak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Dia tak sempat menyelesaikan sekolah rendah karena terlibat perang gerilya. Dia bertugas sebagai kurir sekaligus mata-mata hingga jadi komandan sabotase di lima kantong perjuangan di Jawa Barat. Sial, pada Juni 1946 dia tertangkap Belanda dan menghuni penjara Kebon Baru Bandung selama tiga tahun. Di balik jeruji besi inilah Edhi mulai mengenal dan membuat karya seni. Dari tahanan yang lebih tua, dia belajar membuat kerajinan tangan dan menggambar.

Pada Juli 1949, Edhi dibebaskan. Dia menyusul induk pasukannya di Yogya, yang ternyata sudah melakukan long march ke Jawa Barat. Dia pun melapor ke Kantor Urusan Demobilisasi Pelajar (KUDP) kalau-kalau dapat bergabung lagi dengan pasukan RI. Ketika bolak-balik ke KUDP, Edhi kerap berpapasan dengan mahasiwa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang sedang praktik menggambar. Tertarik, dia pun ikutan menggambar.

Suatu hari pelukis Hendra Gunawan, dosen ASRI, menghampiri dan menanyakan asal-usulnya. Dua hari berselang, dia diperkenankan menjadi siswa pendengar di ASRI. Dia juga bergabung dengan kelompok Pelukis Rakyat, yang didirikan Hendra Gunawan dan Affandi. Lulus dari ASRI pada 1955, Edhi mendapat beasiswa dari Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) untuk memperdalam seni di Kelabhawa Visva Bharati University Santiniketan, India. Dia sempat menyabet penghargaan The Best Exhibit pada All India Fine Art and Exhibition. Lulus pada 1957, dia mengajar mata kuliah seni patung di bekas almamaternya yang sudah berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (kini Institut Seni Indonesia).

Pada 1958, Presiden Sukarno memanggilnya ke Jakarta dan memintanya membuat patung Selamat Datang yang berbahan perunggu setinggi sembilan meter. Edhi terkejut. “Pak, jangankan sembilan meter, sembilan sentimeter pun saya belum pernah membuat patung dari perunggu. Bagaimana mungkin saya melaksanakan pekerjaan ini?”

Dengan nada tegas Sukarno membalas: “Hey Ed! Kau punya rasa bangga berbangsa berbangsa dan bernegara tidak?”

“Tentu saja, Pak.”

“Saya tahu itu. Saya juga mendengar cerita tentang kau yang katanya mantan pejuang. Coba kau pikir apa saya perlu menyuruh seniman luar untuk mengerjakan monumen dalam negeri kita sendiri? Saya tidak mau kau coba-coba, kau harus sanggup. Sekarang kamu pulang ke Yogya, bicara dengan kawan-kawanmu, saya berikan kamu waktu seminggu untuk kembali ke sini dan menyatakan sanggup.”

Edhi kemudian menyanggupi tugas itu. Dibantu kawan-kawannya seperti Pak Mangun dan Pak Darmo –yang terbiasa melakukan pengecoran besi– dia mulai menggarap patung di studio Keluarga Arca, Karangwuni, Yogyakarta. Rancangan patung sendiri mengacu pada karya sket garapan Henk Ngantung, seniman yang menjabat sebagai wakil gubernur Jakarta. Patung Selamat Datang resmi menghiasi bundaran Hotel Indonesia pada 1962. Tapi atas pertimbangan estetika, patung yang tadinya diminta Bung Karno setinggi sembilan meter dipangkas menjadi enam meter.

Patung monumental lain garapan Edhi Sunarso adalah patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng. Dibuat saat perjuangan Indonesia membebaskan Irian Barat, idenya kembali datang dari Sukarno dan diterjemahkan Henk Ngantung dalam bentuk sektsa. Patung ini diresmikan Sukarno pada 17 Agustus 1963.

Setahun kemudian, Edhi membuat patung Dirgantara untuk mengenang kepahlawanan para pejuang Indonesia di bidang kedirgantaraan. Kali ini, pengerjaannya terhambat akibat Gerakan 30 September 1965. Kekuasaan Sukarno sendiri berada di ujung tanduk. Namun komitmen Sukarno tetap ajeg, bahkan dia rela menjual salah satu mobilnya dan menyerahkan dana Rp1,7 juta kepada Edhi Sunarso untuk merampungkan patung itu.

Sukarno bukan tanpa kritik. Dalam Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor pada 15 Januari 1966, Sukarno menjawabnya. Jika Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khruschev menyebut monumen ibarat celana bagi satu bangsa yang hendak bangkit, menjadi besar dan kuat, yang hanya memerlukan nasi dan roti; Sukarno menyebutnya sebagai makanan semangat atau jiwa agar Indonesia menjadi bangsa yang besar dan bisa menunjukkan diri di dunia internasional.

Patung Dirgantara tak sempat diresmikan Sukarno. Ketika sedang melakukan penyelesaian akhir, dari atas patung, Edhi melihat iringan mobil jenazah Sukarno melintas. Dia pun segera turun dan ikut rombongan ke Blitar, tempat jasad Sukarno disemayamkan.

Edhi sendiri terus membuat karya, hingga di usia senjanya. Dia menggarap monumen dan diorama perjuangan di sejumlah tempat. Pemerintah menganugerahkan Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma pada 2003. Karya-karya monumentalnya, makanan jiwa itu, belum basi dan masih bisa dinikmati hingga kini

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Komentar anda

Ilustrasi

Ilustrasi