Pilih Bahasa: Indonesia

Jejak Islam di Batik Besurek

Semula menjadi bagian dari proses daur hidup manusia, batik besurek kini menjadi pakaian kantoran tanpa kehilangan nuansa Islami.
Historia
Historia
pengunjung
1.2k

Pengaruh Islam terhadap ragam hias tekstil terjejak pada batik besurek khas Bengkulu. Motifnya biasanya hanya berupa huruf Arab gundul yang tak punya makna khusus –kecuali beberapa jenis kain, terutama untuk upacara adat. Lalu ada perpaduan motif flora dan fauna –yang sudah distilisasi hingga tak dikenali lagi bentuk aslinya– sebagai simbol hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Dalam Pengaruh Islam dalam Seni Wastra Indonesia, katalog dalam pameran di Museum Tekstil Jakarta, Judi Achjadi dan Benny Gratha menulis, keberadaan kain besurek di Bengkulu diperkirakan muncul awal abad ke-16 seiring masuknya pengaruh Islam. “Tradisi membatik ini sudah ada sejak Kerajaan Jambi,” ujar Benny.

Selain di Bengkulu, batik besurek pernah dikerjakan di Cirebon. Untuk memenuhi kebutuhannya, Kerajaan Jambi bahkan memesan batik dari Cirebon. Dari sinilah perpaduan terjadi. Muncul beragam motif. “Koleksi besurek Museum sendiri sekitar enam lembar saja,” kata Benny.

Pada mulanya kain besurek digunakan sebagai perlengkapan upacara daur hidup seperti kelahiran, cukur rambut anak, perkawinan, hingga kematian. “Dengan menggunakan atribut pakaian yang bertuliskan mantara atau ayat suci Alquran diharapkan acara itu akan berlangsung lancar dan terhindar dari bahaya,” kata Benny.

Munculnya teknologi cap (printing) membuat kain besurek menjadi terjangkau kantong khalayak dan popular. Ia mulai dipakai bukan hanya untuk keperluan adat.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Historia
Historia