Pilih Bahasa: Indonesia
Fifi Young

Indo Nan Jelita

Parasnya yang cantik, didukung keahlian menari dan berakting yang mumpuni, membawa ketenaran namanya hinga ke negeri Malaya.

Ilustrasi
Historia
pengunjung
8.9k

SIAPA tak tertarik padanya. Hidung bangir, kulit putih, badan tinggi semampai, paras yang cantik. Plus kepandaian olah peran dan menari membuat Fifi Young tenar hingga ke Negeri Jiran, Malaysia. Sampai-sampai saat tampil di Kuala Lumpur, Gubernur Selangor yang kerap menonton pertunjukan grup sandiwara kenamaan Miss Riboet Orion memimpin seruan: “One, two, three, we want Fifi.”

Nama aslinya Tan Kim Nio. Lahir di Sungai Liput, Aceh 12 Februari 1915, dari ayah Prancis dan ibu peranakan Tionghoa-Aceh. Sam Setyautama dan Suma Mihardja dalam Tokoh-tokoh etnis Toinghoa di Indonesia menulis kalau Kim Nio tak pernah mengecap pendidikan formal. Di usai 14 tahun dia menikah dengan Njoo Cheong Seng, seorang penulis serbabisa –khususnya novel dan naskah sandiwara– yang juga aktif sebagai sutradara teater. Saat menikahi Fifi, Cheong Seng aktif di grup sandiwara Miss Riboet Orion.

Dari suaminya-lah Kim Nio berkenalan dengan dunia akting. Kim Nio kemudian mengambil nama panggung Fifi Young. Fifi diambil dari nama seorang aktris Prancis kenamaan Fifi d’Orsay, sedang Young adalah lafal Mandarin untuk Njoo, nama keluarga suaminya. Pada akhir 1920-an dia menjadi pemain Miss Riboet Orion dan dengan cepat namanya melambung.

Hubungan dua sejoli, Fifi Young dan Cheong Seng, sungguh ideal. Fifi mendapatkan peran yang cocok atas naskah hasil gubahan Cheong Seng, sedang Cheong Seng memiliki artis cantik jelita yang siap melambungkan grup sandiwaranya. Ketika mengalami masa keemasan, Miss Riboet Orion kerap mengadakan pentas keliling Indonesia hingga ke negeri tetangga.

Kedua sejoli juga seiring-sejalan dalam berkesenian. Pada 1932, Cheong Seng pindah ke grup Moonlight Crystal Follies. Fifi ikut-serta. Begitu pun saat mereka pindah ke Dardanella tiga tahun kemudian. Dalam dunia seni pertunjukan, Fifi Young dan Cheong Seng ibarat satu paket. Merektrut Cheong seng otomatis merekrut Fifi, begitu pun sebaliknya.

Tak lama di Dardanella, pada 1937 Fifi dan suaminya dibantu Henry L Duarte, seorang teman berkebangsaan Amerika dari Guam, mendirikan grup Fifi Young’s Pagoda. Myra Sidharta dalam Dari Penjaja Tekstil Sampai Superwomen mencatat grup ini memiliki kualitas pertunjukan yang cukup baik, sehingga dinikmati kaum intelektual masa itu. Saat grup itu bubar, di masa pendudukan Jepang Njoo, Fifi bekerjasama dengan artis film kenamaan Dahlia mendirikan kelompok sandiwara Bintang Soerabaia.

Fifi mulai melebarkan karier ke layar lebar pada 1950. Debut pertamnya adalah Kris Mataram. Aktingnya mendapat pujian ketika membintangi film Air Mata Ibu setahun kemudian. Setidaknya dia sudah membintangi hampir 100 fim.

Di tengah ketenaran, rumahtangannya bersama Cheong Seng justru bernasib tragis. Cheong Seng menikah lagi dengan seorang artis muda bernama Mipi Malenka. Dikenal sebagai istri setia, Fifi menerima kenyataan sebagai istri kedua. Namun justru Mipi-lah yang tak kuat dan kemudian meninggalkan Cheong Seng. Sayangnya, setelah melalui kepedihan itu, Fifi harus bercerai dengan Cheong Seng.

Pasangan Fifi Young dan Cheong Seng dikaruniai lima anak, dua lelaki dan tiga perempuan. Fifi Young meninggal dunia pada 5 Maret 1975 di usia 61 tahun. Jenazahnya dikremasi di Muara Karang, Jakarta Utara. Disebutkan dalam Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978, yang disusun Sinematek Indonesia, aktor Tan Tjeng Bok yang hadir menjelang perabuan mengatakan, “Terus terang Fifi sudah memiliki daya tarik yang lain dari yang lain. Sifat ramah dan lincah dalam pergaulannya membawa dia ke arah sukses.”

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda

Ilustrasi

Ilustrasi