Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Horor Bangkit dari Kubur

Produksi film horor kembali marak. Dan sejatinya tak pernah mati.
Historia
Historia
pengunjung
11.3k

RADEN Darmadji, ditemani dua orang kepercayaannya, berpetualang ke Pulau Mustika. Putri kesayangannya, Rumiati, turut serta. Tak jauh dari pulau itu, 10 tahun lalu, sebuah kapal yang ditumpangi saudaranya, karam. Darmadji ingin mencari jejak saudaranya.

Namun Pulau Mustika menyimpan sebuah cerita legenda. Di pulau tersebut, 2.000 tahun lalu terkubur jasad Maha Daru yang tewas setelah kalah bertempur melawan Dewi Gumba. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Maha Daru bersumpah suatu waktu akan bangkit dan membalas dendam.

Saat rombongan menyelidiki sebuah gua, hujan turun lebat. Tiba-tiba petir menyambar kuburan Maha Daru hingga terbelah. Maha Daru muncul dalam bentuk tengkorak hidup. Setelah berhasil keluar dari gua, Darmadji dan rombongan dikejar orang-orang liar karena dianggap merusak kesucian gua yang mereka keramatkan.

Rumiati, anak perempuan Raden Darmadji, selamat dari kejaran berkat pertolongan Maha Daru. Tapi di balik itu, Maha Daru punya maksud jahat. Dia hendak menjalankan misi balas dendamnya dengan membunuh orang yang dianggapnya sebagai reinkarnasi Dewi Gumba, yaitu Rumiati. Untunglah, Rumiati akhirnya selamat. Seorang pemuda yang hidup di hutan menolongnya dan kemudian jadi kekasihnya. Happy ending.

Digarap tahun 1941 dengan sutradara Tan Tjoei Hock, film ini melibatkan beberapa pemain tenar seperti Tan Tjeng Bok, Moh Mochtar, dan Bissu. Sejumlah seniman tonil (sandiwara) kenamaan, terutama dari grup Dardanella, juga terlibat seperti Andjar Asmara, Ratna Asmara, Astaman, Inoe Perbatasari, dan Suska.

Majalah Pertjatoeran Doenia Film terbitan 1 Desember 1941 dalam resensinya mencatat, Tengkorak Hidoep adalah sebuah film yang menggabungkan cerita modern dengan bumbu fantasi, dan boleh jadi inilah kali pertama film Indonesia mengangkat formula semacam itu. Tak heran jika film ini laris manis di pasaran.

“Trik kamera dan dilibatkannya bintang-bintang sandiwara kenamaan saat itu menjadi daya pikat tersendiri bagi Tengkorak Hidoep,” kata Nurruddin Asyhadie, seorang penulis naskah drama dan skenario yang juga salah seorang pendiri majalah film Indonesia, F.

Namun Pertjatoeran Doenia Fim juga menyoroti penampilan artis pendatang baru Misnahati sebagai pertaruhan serta pembuktian apakah film ini bisa diterima pasar. Dan pembuktian itu akhirnya terjawab: film ini laris manis di pasaran.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Historia
Historia