Pilih Bahasa: Indonesia

Hak Hidup Makhluk Halus

Orang Jawa meyakini adanya makhluk halus yang mengganggu, tapi juga membantu.
 
Slametan di Jawa pada masa kolonial Belanda.
Foto
Historia
pengunjung
8.7k

Memasuki ruang auditorium gedung 4 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) bau hio menyengat bercampur aroma melati yang ditaruh di setiap kursi. Acara promosi doktor Sunu Wasono pada 22 Desember 2015 agak menyeramkan. Sang calon doktor pun mengenakan pakaian hitam dan blangkon.

Sunu mempersembahkan hio dan melati barangkali sebagai sesajen agar prosesnya lancar karena disertasinya tentang dongeng lelembut (makhluk halus) di majalah Penyebar Semangat.

Kajian ini, kata Sunu, menunjukkan bahwa cerita lelembut memperlihatkan adanya kepercayaan orang Jawa tentang kematian juga keberadaan dan keterlibatan lelembut dalam kehidupan manusia. Dari sekian banyak jenis lelembut, dia hanya mengkaji dua cerita yaitu arwah gentayangan dan genderuwo.

“Keyakinan yang sudah mendarah daging tentang lelembut pada masyarakat Jawa dijadikan sumber inspirasi dan penciptaan para penulis. Oleh karena itu, muncul cerita tentang orang yang mencari kekayaan melalui bantuan lelembut, cerita lelembut yang gemar menyesatkan manusia, cerita tentang lelembut yang menculik manusia, cerita tentang arwah bergentayangan, dan sebagainya,” ujar Sunu, yang mengajar sastra Indonesia di FIB UI.

Membantu dan Mengganggu

Prapto Yuwono, pengajar di program studi Sastra Jawa Universitas Indonesia, menegaskan bahwa orang Jawa percaya makhluk halus karena punya rumusan bahwa semua makhluk ciptaan Tuhan, baik yang terlihat maupun tidak, memiliki hak hidup.

“Karena mereka sama-sama hidup di alam semesta, maka mereka boleh saling membantu, saling menyapa. Bentuk sapaan ini misalnya memberikan sesajen. Sudah pasti, jika seseorang memiliki niat apapun, baik ekonomi atau kekuasaan, dan sedemikian besar niatnya, maka dia akan berpikir untuk melibatkan makhluk lain tersebut,” ujar Prapto Yuwono.

Manusia meminta bantuan kepada makhluk halus antara lain Nyi Loro Kidul, Nyi Blorong, tuyul, demit dan danyang. Sedangkan jenis makhluk halus lain justru mengganggu, seperti memedi dan lelembut.

Menurut antropolog Niels Mulder, alam gaib dihuni oleh segala macam makhluk halus, yang maksud dan kekuatannya bisa bermanfaat maupun merusak, tapi yang bisa dipastikan adalah bahwa kekuatan mereka mempengaruhi dunia nyata kehidupan.

“Oleh karenanya orang kemudian terpikat untuk mendapatkan berkah dari mereka yang dapat melindungi dan untuk mengembangkan potensi batin mereka,” tulis Niels Mulder dalam Ruang Batin Masyarakat Indonesia.

Namun, menurut sejarawan Ong Hok Ham dalam Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong, bantuan makhluk halus, seperti tuyul dan Nyi Blorong untuk mendapatkan kekayaan, dinilai negatif oleh orang Jawa. Sebaliknya, orang Jawa menilai positif raja-raja Jawa yang bersekutu dan mendapat bantuan dari Nyi Loro Kidul atau Sunan Lawu atau roh raja-raja Majapahit.

Ong menjelaskan, pandangan negatif terhadap orang kaya karena bantuan makhluk halus maupun kaya karena berdagang, berdasarkan latar belakang masyarakat Jawa yang agraris; mereka tidak kaya. Petani Jawa hidup dalam keadaan subsisten atau cekap (cukup). Ahli pertanian mengibaratkan petani Jawa seperti orang yang terendam air sampai ke bibirnya. Kalau ada angin bertiup, maka dia akan kemasukan air dan tenggelam. Setiap gelombang akan membahayakan eksistensinya. Gelombang ini bukan saja datang dari gagalnya panen, naik-turunnya harga hasil bumi, naik-turunnya barang-barang dari pedagang, naiknya bunga dari pengijon, namun juga dari pajak negara. Semua itu mempengaruhi keadaan petani, yang memiliki bidang tanah kecil.

Anehnya, kata Ong, bila di kalangan petani Jawa ada sentimen sedemikian besar terhadap eksploitasi pedagang, baik pribumi maupun kaum minoritas; maka tidak demikian halnya terhadap kekuasaan raja (negara). Padahal raja juga dapat membahayakan kehidupan petani subsisten melalui pajak, kerja rodi, wajib perang, dan lain-lain. “Namun kekuasaan raja ini seolah-olah sah dengan segala beban atas masyarakatnya,” kata Ong.

Dengan membandingkan legitimasi kekuasaan politik atau raja melalui dunia supernatural –seperti Nyai Loro Kidul, Sunan Lawu, atau wahyu (pulung)– dengan kekuasaan ekonomi atau orang kaya melalui roh halus –seperti tuyul dan Nyi Blorong atau setan-setan lain– berarti kekuasaan politik lebih legitim di mata orang Jawa.

“Masyarakat tradisional memang sering memerlukan penjelasan melalui alam gaib, namun yang menarik adalah bahwa yang satu baik sedangkan yang lain jelek,” kata Ong.

Jawaban Atas Persoalan

Masyarakat petani Jawa yang cekap dan tidak kaya gampang terpengaruh dengan hal-hal aneh dan alam gaib. “Timbulnya kepercayaan terhadap jin misalnya hanya suatu keadaan substitusi atau rasa ketakutan, misalnya kalau panennya gagal maka takut menjadi kelaparan dan sebagainya,” kata Ong dalam majalah Warta Parapsikologi, No. 4 Tahun III, 1986.

Kegagalan panen karena hama misalnya, oleh para petani dianggap karena ulah makhluk halus. Oleh karena itu, Van Hien dalam De Javaansche geestenwereld, memasukkan hama mentek, walang sangit, dan lembing, sebagai jenis makhluk halus.

Dalam Abangan, Santri, Priayi dalam Masyarakat Jawa, antropolog Clifford Geertz juga menegaskan bahwa fungsi kepercayaan terhadap roh-roh gaib seperti bangsa alus, memedi, gendruwo, lelembut, setan, jin, tuyul, dan danyang, “sebagai jawaban yang tersedia kepada mereka yang percaya atas pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari berbagai pengalaman yang aneh-aneh dan membingungkan.”

Begitu pula antropolog Koentjaraningrat dalam Beberapa Pokok Antropologi Sosial menyebutkan bahwa kepercayaan terhadap makhluk halus “karena manusia takut akan krisis-krisis dalam hidupnya, atau manusia yakin akan adanya gejala-gejala yang tidak dapat diterangkan dan dikuasai oleh akalnya, atau manusia percaya akan adanya suatu kekuatan sakti dalam alam, atau manusia dihinggapi emosi kesatuan dalam masyarakatnya, atau manusia mendapat suatu firman dari Tuhan, atau semua sebab tersebut di atas.”

Memang, kata Sunu, ada yang menyebutkan (seperti Ong, Geertz, dan Koentjaraningrat,red.) bahwa kepercayaan orang Jawa terhadap makhluk halus sebagai eskapisme atau pelarian dari masalah kehidupan dunia.

“Tetapi kepercayaan kepada makhluk halus bisa juga tidak terkait dengan itu, karena memang dasar orang Jawa memiliki kepercayaan yang kuat terhadap kehidupan yang tidak kasat mata. Bahwa ada dunia lain yang mengontrol dunia kita. Ini dipercaya betul,” pungkas Sunu.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Slametan di Jawa pada masa kolonial Belanda.
Foto
Slametan di Jawa pada masa kolonial Belanda.
Foto