Pilih Bahasa: Indonesia

Gambar Erotis dari Shunga ke Hentai

Meski dilarang, para samurai, pedagang, dan ibu rumah tangga diperkirakan mengoleksi gambar erotis.
Sumber: www.bobkessel.com.
Ilustrasi
Historia
pengunjung
63.4k

KETELANJANGAN di masa Tokugawa, atau dikenal juga sebagai era Keshogunan Edo (1603-1868), adalah hal lumrah. Di pemandian umum, lelaki dan perempuan bisa melihat alat kelamin masing-masing dengan jelas. Tak heran jika seni shunga menjadi populer. Dengan tampilan model berpakaian lengkap, ia terasa lebih estetis dan menggoda alih-alih erotis.

Shunga merupakan karya seni lukis bergaya ukiyo-e yang menggunakan metode printing kuno, dengan papan kayu sebagai plat cetakan. Biasanya menampilkan adegan percintaan lelaki dan perempuan, perempuan dan perempuan, lelaki dewasa dengan lelaki dewasa, atau lelaki dewasa dengan pemuda. Shunga merupakan istilah Jepang yang merujuk pada “gambar erotis”. Secara harfiah shunga berarti “gambar musim semi” sementara “musim semi” sendiri dalam bahasa Jepang merupakan eufemisme dari seks.

Zhou Fang, pelukis besar erotis Tiongkok yang hidup masa Dinasti Tang (618-907), diduga memberi pengaruh besar. Seperti ditulis G.L. Simon dalam The Illustrated Book of Sexual Records, Zhou biasa menampilkan figur perempuan bertubuh gemuk pada lukisannya, sesuai standar nilai estetis pada era Dinasti Tang. Seperti pelukis erotis oriental pada masanya, Zhou juga memiliki kecenderungan melebih-lebihkan ukuran organ genital dalam karyanya. Inilah yang kemudian menjejak dalam karya-karya shunga.

Belakangan shunga juga terinspirasi ilustrasi di dalam buku pedoman manual pengobatan Tiongkok yang disadur dan terbit pada masa Muromachi (1336-1573). Salah satunya Isho Taizen karya Asaino Sozui yang dirilis pada 1528 dan digarap dengan metode printing, lengkap dengan ilustrasi.

Sekalipun sudah berkembang, shunga baru mencapai popularitas pada masa Edo. Karena jengah, pada 1661 Keshogunan Edo mengeluarkan dekrit pelarangan buku-buku erotis yang dikenal dengan sebutan kōshokubon. Pelarangan demi pelarangan diterapkan, namun tak ada yang benar-benar efektif. Shunga tetap beredar. Bahkan ada sebuah tahayul yang berlaku di masyarakat Jepang kala itu bahwa shunga dapat menjadi jimat keberuntungan bagi samurai untuk menghindar dari kematian. Ia juga dapat dijadikan jimat untuk melindungi rumah dan gudang pedagang dari bahaya kebakaran.

Dalam buku Sex and the Floating World: Erotic Images in Japan, 1700-1820, Timon Screech menulis, pada masa itu perempuan dewasa yang membeli shunga biasa beralasan menggunakannya sebagai jimat untuk melindungi rumah dari kebakaran. Selain itu, tulis Timon, shunga begitu populer di periode itu karena, tak seperti lukisan yang berharga mahal dan perlu perawatan, shunga yang yang dibuat dengan teknik cetak harganya lebih murah dan terjangkau –meski ada juga shunga yang berharga mahal.

Shunga seringkali dijadikan buku panduan seksual bagi remaja dan gadis dari keluarga-keluarga terhormat. Majella Murno dalam Masterclass: Understanding Shunga. A Guide to Japanese Erotic Art menulis, shunga kerap dijadikan sebagai hadiah pada calon pasangan pengantin sebelum mereka menikah. Isinya petunjuk cara-cara melakukan hubungan seksual.

Di periode awal, shunga dibuat dalam tampilan warna monokrom (berwarna tunggal). Metode pewarnaan mulai dipakai sejak 1744 meski terbatas pada halaman tertentu. Dua dekade kemudian shunga berwarna menjadi marak. Namun lebih banyak karya diproduksi dengan metode lama karena biayanya lebih murah dan menyangkut selera.

Harga dan kualitas karya shunga bervariasi. Para seniman yang sudah memiliki nama dapat menjual karya mereka dengan harga mahal. Di antara seniman ukiyo-e terkemuka adalah Katsushika Hokusai. Karyanya “The Dream of the Fisherman’s Wife” melegenda hingga saat ini. Ada juga Hishikawa Moronabu, Miyagawa, Issho, Yanagawa Shigenobu, dan Chobun Saeshi.

Seni shunga dibuat dan dijual dalam bentuk lembar per lembar tapi seringkali dalam bentuk buku –dinamakan enpon. Shunga juga dibuat dalam bentuk gulungan yang dinamakan kakemono-e. Sebagian besar dicetak di Edo, tapi ada juga yang dibuat di Kamigata (Osaka dan Kyoto). Perbedaan ciri khas antara gaya Edo dan gaya Kamigata terlihat pada permainan warna. Edo lebih suka bermain warna-warna cerah dan berani, sementara Kamigata lebih suka warna kalem.

Karakter-karakter yang tampil dalam shunga umumnya orang-orang biasa, dari petani, pengrajin, dan pedagang, hingga pelacur. Lucunya, terkadang hadir juga karakter orang asing berkebangsaan Jerman atau Portugis. Para penikmat dapat mengenali figur dalam gambar lewat pakaian yang dikenakan. Itulah salah satu alasan kenapa figur dalam shunga, meski digambarkan tengah bercinta, kerap digambarkan berpakaian lengkap. Yang menarik, karakter tokoh sedang bercinta kerap ditampilkan dengan bentuk kelamin esktrabesar, sebesar kepala. Selain untuk mempertegas visibilitas konten seksual secara eksplisit, ini dimaksudkan pula sebagai bunga artistik. Alat kelamin dianggap seniman ukiyo-e sebagai “wajah kedua”, yang mengekspresikan gairah hidup.

Pelarangan terhadap shunga mulai mengendor pada periode Meiji (1868–1912), dengan batasan tak boleh memperlihatkan alat genital. Namun justru pada saat inilah popularitas shunga mulai memudar. Pengaruh Barat dan teknologi, terutama fotografi, membuat shunga kalah bersaing dalam menampilkan gambar erotis. Tapi shunga di kemudian hari menjadi inspirasi bagi perkembangan seni anime dan manga yang tumbuh dalam periode modern di Jepang.

Manga atau anime adalah istilah bahasa Jepang yang merujuk pada komik atau kartun. Manga modern mulai populer di beberapa negara selepas Perang Dunia II. Karya manga terkenal saat itu adalah Mighty Atom, yang setelah bermigrasi ke Amerika pada 1951 dikenal dengan komik Astro Boy, karya Osamu Tezuka.

Shunga juga menjejak pada karya manga atau anime bergenre hentai, sebuah kata dalam bahasa Jepang yang memiliki arti “penampilan aneh” atau “abnormalitas”. Dalam percakapan sehari-hari, hentai sering digunakan di banyak negara selain Jepang untuk menyebut game, anime, atau manga yang menampilkan adegan seksual atau pornografi. Selain sama-sama memuat hal berbau erotisme, pengaruh shunga pada hentai terlihat pada tampilan alat kelamin tokoh yang kerapkali digambarkan berukuran ekstrabesar.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Sumber: www.bobkessel.com.
Ilustrasi
Sumber: www.bobkessel.com.
Ilustrasi