Pilih Bahasa: Indonesia

Edan-edanan, Pembuka Jalan Bobby-Kahiyang ke Pelaminan

Sepasang penari di depan pengantin mengantar ke pelaminan. Bermula dari tugas suci, sekarang menjadi penggembira.
 
Sepasang cantang balung atau edan-edanan di depan penganting Bobby-Kahiyang dan keluarga.
Historia
pengunjung
2.8k

BEBERAPA saat setelah prosesi panggih temanten, Presiden Joko Widodo dengan busana khas Jawa berada di depan kedua mempelai, Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution, menuju pelaminan. Ada yang menarik saat prosesi menuju pelaminan itu. Di depan iringan pengantin terdapat sepasang penari dengan busana basahan yang mukanya bercat putih dan badan dibaluri warna kuning.

“Itulah cantang balung atau edan-edanan. Tugasnya ya membuka jalan bagi pengantin,” ujar Herman Sinung Janutama, penulis buku Pisowanan Alit, kepada Historia.

Keberadaan cantang balung memiliki akar sejarah yang panjang. Mereka tidak serta merta muncul hanya untuk mengiringi pengantin menuju pelaminan.

Menurut arkeolog W.F. Stutterheim pasukan cantang balung merupakan bentuk baru dari pendeta yang berada di barisan terdepan dalam suatu acara keagamaan.

“Dalam penelitian relief Candi Brorobudur di tahun 1935, arkeolog W.F. Stutterheim meneliti tokoh brahmana yang digambarkan berjenggot dan berkumis sedang menari. Adegan di relief tersebut diyakini sebagai pendahulu dari pasukan cantang balung,” tulis J. Ras dalam “De Clownfiguren in de Wajang,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, tahun 1978.

Kedudukan cantang balung sebagai “brahmana” diperkuat oleh catatan Darsiti Suratman dalam Kehidupan Dunia Kraton yang menerangkan bahwa cantang balung merupakan pimpinan pengiring sajian suci ke tempat ibadah. Seperti saat berlangsung Garebeg Maulud, pasukan cantang balung harus mengiringi gunungan Garebeg Maulud sampai ke halaman masjid.

Sementara menurut J.L. Moens dalam Budhisme di Jawa dan Sumatra posisi cantang balung merupakan pengaruh dari sekte Bhairawa. Tugasnya adalah minum arak di depan umum hingga mabuk lalu menari.

Kedudukan cantang balung dalam sejarah pun mengalami pasang surut. Setelah berjasa mengusir para lelembut di Kedunglumbu pada pertengahan abad 18, pasukan ini lalu ditempatkan di bagian abdi dalem niyaga yang tugasnya mengiringi permainan watangan setiap Sabtu sore.

Setelah watangan dihapuskan pada abad 19, cantang balung menempati posisi baru sebagai jajar yang bertugas menari tarian Gajah Ngombe di depan bangsal Angun-angun pada waktu raja berjalan meninggalkan Sitihinggil menuju kedaton. Saat menari, tangan kirinya selalu membunyikan kepyak dari tulang, sedang tangan kanannya memegang gelas berisi minuman. Dan setiap gong berbunyi, dia meminum gelas itu.

Kemudian pada era Pakubuwono X (1866-1939), cantang balung dikelompokkan dalam abdi dalem golongan kridhastama. Sebagai penggembira, cantang balung mempunyai kebebasan untuk mengatakan segala sesuatu yang mereka inginkan, dan dilaksanakan lewat kedudukannya sebagai badut. Pada lelucon itu sering dilontarkan kritik sosial.

“Sebagai abdi dalem kridhastama, cantang balung memang ditugasi untuk membuat lelucon. Sifatnya menghibur, supaya orang yang menyaksikan bisa bergembira,” ujar Dhanang Respati Puguh, sejarawan dari Universitas Diponegoro, kepada Historia.

Pasukan cantang balung sempat tidak dipakai sejak Kasunanan Surakarta dihapuskan sifat swaprajanya setelah tahun 1945. Namun, pada 1973 pasukan cantang balung kembali tampil dalam perayaan Sekaten Kraton Surakarta, hingga hari ini.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Sepasang cantang balung atau edan-edanan di depan penganting Bobby-Kahiyang dan keluarga.
Sepasang cantang balung atau edan-edanan di depan penganting Bobby-Kahiyang dan keluarga.