Pilih Bahasa: Indonesia

Antara Estetika dan Propaganda

Mudah diproduksi dan murah, seni grafis menjadi pilihan untuk berkarya dan menyampaikan pesan.
Historia
Historia
pengunjung
8k

EMPAT lelaki bertubuh kekar terikat rantai di leher dan tangan. Dengan font stencil blok berwarna merah bertuliskan “Anti Perbudakan”, Digie Sigit ini coba merespon masalah perburuhan di tanah air.

Karya Sigit terpajang dalam pameran “Artspirasi Buruh Migran: Melintas Batas” yang dihelat pada 2-12 Mei 2012 di Galeri Cipta 2 Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Karya ini tampil di pameran dalam bentuk foto, sedang karya “aslinya” yang menggunakan proses stensil atau sablon terpampang di beberapa ruang publik di Yogyakarta maupun Jakarta. Dalam katalog pameran, Sigit menulis: “Metode ini saya pilih sebagai bentuk kongkret sebuah kampanye yang melewati batasan eksklusif wacana seni rupa Indonesia.”

Karya Sigit mengingatkan nafas seni rupa Indonesia di masa lalu. Untuk menyulut semangat para pejuang dan rakyat, para seniman terlibat dalam produksi poster-poster dengan bahan-bahan seadanya. Salah satunya yang terkenal adalah poster “Boeng, Ajo Boeng” karya Affandi. Idenya berasal dari Presiden Sukarno. Dia ingin sebuah poster sederhana namun kuat sebagai alat propaganda untuk membangkitkan semangat pemuda. Pelukis Dullah menjadi modelnya. Affandi bertindak memberi gambar desain yang kemudian diproses grafis oleh para tukang dan pegawai percetakan.

Ada juga karya grafis Mochtar Apin dan Baharuddin Marasutan, dibuat atas tugas “Oeroesan Pemuda Perhoeboengan Loear Negeri” yang merupakan bagian dari Sekretariat Negara, untuk menyambut ulang tahun kemerdekaan pada Agustus 1946. Hasil cetakan lino keduanya yang merepresentasikan situasi perjuangan itu kemudian disebarkan ke pelbagai negara yang mengakui kedaulatan Indonesia. Karya Mochtar Apin, berjudul “Arak-arakan”, menampilkan gambaran barisan orang membawa spanduk bertuliskan ”sekali merdeka tetap merdeka”. Sedang Baharuddin secara pandai menampilkan sisi humanis sosok bangsa yang baru merdeka lewat karya “Hidup Sunyi”, merepresentasikan gambar sebuah pot tanaman hias teronggok di sebuah pojok.

Menurut kurator seni Aminudin TH Siregar dalam artikel “Pembicaraan tentang Seni Grafis”, masuk katalog Seni Grafis Dari Cukil Sampai Stensil, tampak jelas bahwa proyek itu adalah propaganda pemerintah. Dan desain grafis, atau dalam hal ini teknik cukilan, adalah salah satu teknik yang paling lekat dengan kepentingan itu

“Waktu itu programnya lebih berniatan untuk menunjukkan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Karena kan ada anggapan bahwa bangsa yang merdeka adalah bangsa yang telah mengenal atau berkesenian,” kata pengamat seni rupa Bambang Bujono, yang akrab disapa Bambu. “Kenapa seni grafis? Ya karena bersifat reproduktif sehingga mudah disebarluaskan.”

“Pada revolusi kemerdekaan poster lebih berperan, sedang kalau bicara seni grafis itu kan bukan poster atau cukil saja tap iada etsa, lithografi yang alat-alatnya itu susah didapat. Saat ini saja mesin-mesinya hanya ada di perguruan-perguruan tinggi; apa lagi pada masa itu,” kata kurator, Jim Supangkat.

Aminudin TH Siregar menyayangkan ketika seni grafis dijadikan sebagai alat propaganda. Dia mengatakan, kepentingan politik yang menjadi sasaran utama proyek 1946 itu membuat seni grafis tak dilihat dari segi artistiknya melainkan lebih pada nilai propagandanya. Padahal, jika ditilik lagi, Baharuddin dan Moch Apin tampak tak meninggalkan sisi estetika pada karya mereka. Sutan Takdir Alisjahbana saja mengakui karya-karya mereka yang dibuat di tengah segala keterbatasan: “Pahatan lino yang disajikan sekarang ini adalah satu contoh betapa keras hati angkatan baru Indonesia untuk menjelmakan dirinya.”

Perkembangan seni grafis terus mengisi perkembangan seni rupa di Indonesia. Terlihat dari pemuatan karya-karya di sejumlah majalah dan koran kebudayaan. Di majalah Seniman, media terbitan Seniman Indonesia Muda (SIM), tahun 1947 sampai 1948, karya cukil kayu Suromo dan Abdul Salam kerap mengisi halamannya. Misalnya karya Abdul Salam dengan teks “Basoeki di Negeri Belanda Menggambar Helfirch”, yang dimuat Seniman edisi 3 Juli 1947.

Karya Abdul Salam tampak sangat terpengaruh pemikiran Sudjojono, ketua SIM yang juga sempat aktif di Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi). Sudjojono berpandangan sebuah karya seni haruslah menggambarkan realitas, bukan sekadar pemandangan alam yang melenakan dan menjauhkan masyarakat dari relitas –atau biasa disebut “mooi indie”. Salah satu seniman beraliran mooi indie adalah Basoeki Abdullah. Karya Abdul Salam merupakan sindiran kepada pelukis macam Basoeki yang dianggap hanya memuaskan hasrat estetika kaum Eropa akan gambaran alam Hindia Belanda yang eksotik.

“Karya mereka tak sekadar mengilustrasikan tapi terlebih lagi menegaskan pandangan redaksi yang terbawa pemikiran Sudjojono, ketua SIM. Yakni, seni rupa dalah sarana sekaligus alat guna melawan sisa kekuatan kolonial yang masih hinggap di tubuh seni rupa,” tulis Ugeng T Moetidjo dalam “Seni Grafis Majalah Kebudayaan 1947-1972”. Ugeng memasukkan karya grafis cukil kayu atau cukil lino sebagai fase pertama perkembangan seni grafis yang bermuatan “realisme politis”.

Dalam tulisannya, Ugeng mengulas karya-karya grafis yang terbit di majalah kebudayaan Seniman, mingguan Pembangoenan, majalah Indonesia, dan Zenith yang terbit 1946-1964. Untuk fase kedua, yang menurutnya bermuatan “politis antropologis, dia mengambil contoh karya cukil-lino Mochtar Apin “Sang Pengarang” yang dimuat di majalah Pembangoenan edisi 29 Mei 1947.

Seni grafis sebagai alat penyadaran kemudian identik dengan organisasi kebudayaan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), yang terbentuk pada 17 Agustus 1950. Beberapa seniman SIM kemudian bergabung dengan Lekra. Melalui media resminya, Zaman Baru, Lekra yang mengusung konsep “seni untuk rakyat” melanggengkan seni grafis. Misalnya dalam karya cukil kayu Arifin, “Ganyang Malaysia, Ganyang Film Imperialis AS” yang dimuat Zaman Baru tahun 1964. Karya ini merupakan refleksi dari suasana politik saat konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia dan semangat antineokolonialisme yang diterjemahkan ke dalam gerakan antifilm asing yang kebanyakan diimpor dari Amerika Serikat.

Tema-tema semacam itu kerap hadir dalam karya-karya senima Lekra. Dalam pameran seni grafis akhir Agustus 1964, di Paviliun Hotel Duta Indonesia, tema-tema yang ditampilkan menggambarkan kehidupan rakyat, perjuangan tani, pengganyangan Malaysia, dan perlawanan terhadap imperalisme Amerika Serikat.

Zaman kemudian berubah, begitu juga pilihan estetik dalam seni rupa. Karya seni grafis yang bermuatan “realisme politis” pun meredup. Muncullah nama-nama seperti Srihadi, Pirous, Popo Iskandar, dan Sukamto dengan grafis cukil kayu yang lebih mengeskpresikan individu si seniman.

Saat ini seni grafis sebagai alat propaganda masih terus terjejak. Ini bisa dilacak pada karya-karya poster komunitas Taring Padi di Yogyakarta.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Historia
Historia