Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 3

Akar Sejarah Dongeng Nyi Blorong

Dihujat sebagai pemberi kekayaan secara cepat, namun juga dipuji sebagai pelindung tanah yang menghasilkan hasil bumi.
 
Sampul film "Perkawinan Nyi Blorong" yang dibintangi Suzzanna dan Clift Sangra.
Foto
Historia
pengunjung
34.4k

Asal-Muasal

Siapa Nyi Blorong? Beberapa sumber menyebutnya sebagai putri dari penguasa laut selatan, Ratu Kidul. Kisah ini antara lain tersurat dalam Babad Prambanan, yang disalin pada 1927. Babad ini punya versi lain yang lebih tua, yang disalin Wirsungun di wilayah Mangkunegaran pada 1885 atas prakarsa B.R.Ng. Keduanya menceritakan berdirinya Candi Prambanan dan juga kisah Ajisaka. Menariknya, mitos Aji Saka juga tersurat dalam Serat Kandaning Ringgit Purwa, sebuah kumpulan cerita wayang dan dongeng yang digubah dalam tembang macapat sekira abad ke-16.

Dikisahkan, karena membunuh seekora naga yang sedang bertapa di sebuah goa, Prabu Aji Saka dari Medhangkamulan memiliki seorang anak berwujud naga yang bernama Naga Nginglung. Kendati malu, Aji Saka akhirnya mau mengakuinya sebagai anaknya asalkan Naga Nginglung bisa mengalahkan musuhnya, Dewatacengkar yang menjelma jadi buaya putih dan bersemayan di pantai selatan.

Sementara itu, raja lelembut penguasa laut selatan yang bernama Nginangin menggelar rapat untuk membahas kekacauan akibat ulah Dewatacengkar. Ia pun membuat sayembara; barangsiapa dapat mengalahkan buaya putih, akan dinikahkan dengan putrinya, Rara Blorong, yang berbadan manusia tetapi bersisik. Tak berselang lama, buaya putih itu sudah dikalahkan Naga Nginglung. Pernikahan pun digelar.

Menurut Robert Wessing dalam “A Princess from Sunda: Some Aspects of Nyai Roro Kidul” dimuat Asian Folklore Studies Vol. 56 tahun 1997, ular adalah mahluk favorit dalam beberapa cerita rakyat yang berkembang di Asia Tenggara, Tiongkok, dan India. Dalam banyak cerita tersebut, ular atau naga sering dikaitkan dengan penguasa, panen, dan kesuburan.

Dalam kisah pewayangan di Jawa, terdapat tokoh Anantaboga yang digambarkan sebagai dewa berwujud naga. Ktut Ginarsa dalam Gambar Lambang menyebut bahwa Anantaboga berasal dari kata “ananta” dan “boga”, yang masing-masing punya arti “tiada berkesudahan” dan “bahan untuk hidup”. Jadi Anantaboga melambangkan kemakmuran atau kebahagiaan.

Tak heran jika bagi masyarakat Jawa pedalaman yang agraris, Nyi Blorong punya makna penting. Perwujudannya dalam bentuk ular dianggap sebagai penjaga lahan pertanian dari serangan hama, terutama tikus. Maka, untuknya dilakukanlah sedekah bumi.

“Sosok Blorong ini kan bisa diwujudkan dengan ular, di mana dalam mitos Jawa, ular menjadi perlambang penjaga bumi. Dia bisa disebut sebagai simbol keamanan dunia agraris,” ujar Prapto Yuwono.

Dalam perjalanan waktu, terutama karena sifat cerita rakyat (folklore) yang terus berkembang, sosok Nyi Blorong lebih lekat dengan pesugihan. Dalam analisis Prapto Yuwono, hal ini biasa saja terjadi karena persoalan di zaman sekarang semakin sulit dan tak dapat terpecahkan, sehingga banyak orang ‘mencari’ jalan keluar ke dunia lain. Dalam alam pikir masyarakat Jawa, keberadaan dunia lain dengan penghuninya sudah menjadi satu-kesatuan yang utuh.

“Karena mereka sama-sama hidup, kemudian mereka boleh saling membantu. Seseorang yang memiliki keinginan besar meraih kekuasaan politik atau ekonomi sudah tentu akan melibatkan kalangan makhluk halus dalam meraih cita-citanya,” ujar Prapto.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Sampul film "Perkawinan Nyi Blorong" yang dibintangi Suzzanna dan Clift Sangra.
Foto
Sampul film "Perkawinan Nyi Blorong" yang dibintangi Suzzanna dan Clift Sangra.
Foto