Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Akar Sejarah Dongeng Nyi Blorong

Dihujat sebagai pemberi kekayaan secara cepat, namun juga dipuji sebagai pelindung tanah yang menghasilkan hasil bumi.
Sampul film "Perkawinan Nyi Blorong" yang dibintangi Suzzanna dan Clift Sangra.
Foto
Historia
pengunjung
32.9k

Suatu sore, sekira 1960-an. Warga Magelang berkumpul di tepi jalan utama yang menghubungkan Magelang dan Yogyakarta sembari membunyikan kentongan dan apapun yang menimbulkan bunyi berisik. Sebagai anak kecil, Prapto Yuwono turut berbaur dalam kerumunan. Namun herannya jalanan sedemikian sepi; tak ada yang lewat. Selang beberapa waktu, angin berhembus dari arah selatan.

“Rupanya, itulah cara orang menyambut lampor. Mereka membuat bunyi-bunyian, supaya pasukan Nyi Blorong yang berwujud lelembut itu tidak berhenti ditengah jalan. Sebab jika pasukan itu berhenti, mampir di rumah warga, daerah tersebut akan diserang wabah penyakit,” ujar Prapto Yuwono, dosen Program Studi Sastra Jawa Universitas Indonesia.

Lampor biasanya merujuk pada tourne atau perjalanan ke beberapa wilayah, khususnya di Jawa, yang dilakukan Nyi Blorong beserta pasukannya.

Masyarakat Jawa punya beragam cara untuk menghadapi wabah atau pagebluk yang disebakan lampor. Di Semarang, misalnya, sekira tahun 2001, penduduk menggantungkan plastik berisi air berwarna di depan pintu. Cara ini diharapkan bisa menangkal pagebluk yang disebabkan kemarahan Nyi Blorong karena kehilangan selendangnya.

Mitos Nyi Blorong masih eksis dalam tradisi tutur di Indonesia, yang juga disebarluaskan melalui beragam media, terutama film. Ia kerap digambarkan bisa berganti rupa dari sesosok perempuan cantik menjadi ular bersisik emas, atau sebaliknya. Selain sebagai panglima dunia makhlus halus, dia diyakini bisa memberikan kekayaan (pesugihan). Jika ingin bersekutu dengannya, syaratnya berat: bersedia berhubungan badan setiap malam Jumat kliwon dan menyediakan tumbal. Setelah bercinta, sisik di tubuh Nyi Blorong berguguran dan berubah menjadi kepingan emas dan butiran permata.

Sejak abad ke-19, H.A van Hien sudah mencatat keberadaan Nyi Blorong. Dalam bukunya, De Javaansche geestenwereld, en de betrekking, die tussen de geesten en de zinnelijk wereld, verduidelijkt door petangan′s of tellingen bij de Javanen in gebruik yang terbit tahun 1896, van Hien membagi dunia makhluk halus di Jawa menjadi 95 jenis. Mengenai Nyi Blorong, dia menulis: “Segala jenis kekayaan akan diberikan kepada si pemanggil. Dan hal itu berjangka waktu selama tujuh tahun, namun bisa diperpanjang hingga dua kali lagi. Namun selama itu harus ada yang dikorbankan, dan terakhir si pemanggil itu yang menjadi korban dan mengisi istana Nyai Blorong,” tulis HA van Hien.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Sampul film "Perkawinan Nyi Blorong" yang dibintangi Suzzanna dan Clift Sangra.
Foto
Sampul film "Perkawinan Nyi Blorong" yang dibintangi Suzzanna dan Clift Sangra.
Foto