Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Ada Apa dengan Koteka

Koteka dianggap simbol keterbelakangan. Tetap digunakan sebagai simbol perlawanan.
 
Koteka yang tersimpan di Museum Gajah, Jakarta.
Historia
pengunjung
2.7k

Seorang pengunjung Museum Gajah, Jakarta Pusat, tersenyum geli ketika mengamati salah satu koleksi etnografi Papua. Berbentuk selongsong panjang, berwarna coklat, terbuat dari buah labu kering bernama latin Lagenaria Siceraria. Keterangan di etalase terpampang: “penish sheath” atau pembungkus penis.

“Benda itu sepertinya gak aman buat alat vital,” ujar Gita Primasari (26), pengunjung itu.

Gita mungkin tidak tahu bahwa benda itu bukan semata alat pembungkus penis. Ia punya fungsi lain sebagai penanda status sosial dan bahkan simbol perlawanan. Ia adalah salah satu pakaian tradisional yang dikenakan sebagian masyarakat Papua, terutama di area dataran tinggi.

Bagi orang-orang suku Dani, suku terbesar yang mendiami Baliem, penutup penis itu dinamakan holim. Sedangkan labu kering yang merupakan bahan utama pembungkusnya disebut kio. Labu ditanam di lahan pekarangan di sekitar kompleks rumah (osilimo) yang terdiri dari beberapa unit rumah.

“Koteka” sendiri berasal dari bahasa Mee –dulu disebut bahasa Ekagi atau Ekari– yang berarti pakaian. Bahasa ini digunakan orang-orang Mee, sebuah suku yang berasal dari daerah bagian barat Pegunungan Tengah di Papua, yang sekarang masuk wilayah kabupaten Paniai, Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya, dan Nabire. Nama “koteka” mulai diperkenalkan guru-guru sekolah pemerintah Belanda yang mengajar di lembah Baliem pada akhir 1940 sampai 1950-an.

“Saat ini masyarakat yang masih mengenakan koteka terdapat di wilayah adat Mee Pago (suku Mee dan Moni) dan La Pago (suku Lani, Dani, Yali, Katengban, dan Ngalum). Suku-suku ini kebanyakan bermukim di wilayah Pegunungan Tengah Papua (terbentang dari Danau Paniai, lembah besar Baliem, dan pegunungan Jayawijaya),” ujar Ibiroma Wamla (39), pelajar adat dan budaya Papua di Jayapura, kepada Historia.

Membentuk Koteka

Koteka mulai dibentuk sejak masa tanam labu. Setelah beberapa bulan tumbuh, labu diikat dengan batu agar diperoleh bentuk tegak lurus. Untuk mendapatkan bentuk labu yang melengkung, sebelum dipanen, batu yang diikat menggantung tersebut dilepas.

Pembentukan labu punya tujuan tertentu. Dalam lingkungan masyarakat Baliem, bentuk koteka menandakan kelas sosial pemakainya. Koteka yang berbentuk melengkung hanya dikenakan orang-orang yang punya pengaruh dalam masyarakat.

“Koteka yang ujungnya melengkung ke depan (kolo) di sandang oleh Ap Kain atau pemimpin konfederasi (pemimpin klan). Golongan menengah mengenakan koteka yang ujungnya melengkung ke samping (haliag). Mereka di antaranya adalah Ap Menteg (panglima perang) dan Ap Ubalik (tabib dan pemimpin adat). Sedangkan yang bentuknya tegak lurus boleh digunakan masyarakat biasa,” ujar Ibiroma.

Labu yang siap panen dipetik lalu dikeringkan di perapian. Setelah kering, isi labu dikeluarkan hingga tersisa kulit labu yang keras. Buah labu yang telah dibersihkan kembali dikeringkan di perapian, dan setelah itu dipasangkan ke batang penis.

“Prosesnya sekitar 1 sampai 2 minggu. Yang lama adalah proses pengeringan. Biasanya dibuat untuk beberapa koteka, tidak hanya satu koteka,” ujar Ibiroma.

Untuk menambah kesan gagah dan daya tarik bagi lawan jenis, ujung koteka biasanya dipasang jambul yang terbuat dari bulu ayam atau burung. Agar tak jatuh saat dikenakan, koteka diikatkan tali halus yang melingkari pinggang.

Anak-anak yang telah berusia lima tahun mulai diperkenankan memakai koteka. Setelah terpasang, koteka menyatu dengan pemiliknya. Tak akan diganti sampai rusak.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Koteka yang tersimpan di Museum Gajah, Jakarta.
Koteka yang tersimpan di Museum Gajah, Jakarta.