HILDEGARD TRUTZ baru saja menyelesaikan sekolahnya pada 1936. Ia tidak tahu pekerjaan apa yang dapat membuat masa depannya cerah. Gadis berusia 18 tahun itu kemudian meminta saran kepada seorang pemimpin Bund Deutscher Mädel (BDM, organisasi perempuan yang setara dengan Hitler Youth atau Pemuda Hitler), tempatnya bergabung sebagai anggota sejak tahun 1933, yang menyarankannya untuk ambil bagian dalam progam Lebensborn.
“Apa yang dibutuhkan Reich adalah pasokan tenaga yang sehat dan murni secara rasial,” kata pemimpin BDM setempat kepada Hildegard sebagaimana dikutip oleh Paul Roland dalam Nazi Women of the Third Reich: Serving the Swastika.
Lembaga Lebensborn, yang berarti “mata air kehidupan”, didirikan pada Desember 1935. Menurut sejarawan Amy Carney dalam Marriage and Fatherhood in the Nazi SS, Lebensborn didirikan tidak semata-mata untuk menyokong para ibu yang tidak menikah dan anak-anak yang lahir di luar pernikahan, tetapi juga bermanfaat bagi para ibu yang sudah menikah dan anak-anak yang sah. Wisma Lebensborn adalah rumah sakit bersalin di mana para perempuan –terutama mereka yang bertunangan atau menikah dengan pria SS, atau mereka yang hubungan seksualnya dengan seorang pria SS berujung pada kehamilan– dapat menerima perawatan sebelum, selama, dan setelah kelahiran anak-anak mereka. Lembaga ini juga mendukung keluarga-keluarga SS yang memiliki banyak anak.
Baca juga:
Heinrich Himmler, Arsitek Genosida Nazi
“Lebensborn didirikan pada Desember 1935 oleh Kantor Urusan Keluarga RuSHA. Namun, setelah Januari 1938, lembaga ini dipisahkan dari RuSHA, berada di bawah kendali Staf Pribadi SS, dan direorganisasi di bawah dewan direksi yang dipimpin oleh Heinrich Himmler (Reichsführer-SS yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh Nazi paling berpengaruh, red.). Orang yang bertanggungjawab atas program ini adalah tiga pewira SS, yakni Gregor Ebner sebagai kepala petugas medis; sementara Dr. Guntram Pflaum dan Max Sollman bertanggungjawab atas urusan administrasi,” tulis Carney.
Kehadiran Lebensborn sejalan dengan propaganda Nazi tentang pentingnya keluarga sebagai sumber kehidupan bangsa Jerman. Partai yang dipimpin oleh Adolf Hitler itu memandang keluarga sebagai sarana untuk mencapai tujuan kebijakan kependudukan dan kemurnian ras. Terlebih ketika itu tingkat kelahiran di Jerman mengalami penurunan. Hal ini dianggap sebagai masalah utama yang harus diatasi. Lebensborn tak hanya fokus kepada upaya peningkatan generasi baru “yang memiliki ras unggul dan keturunan yang sehat”, tetapi juga ambil bagian dalam perjuangan melawan aborsi.
“Lembaga ini melihat tugas utamanya adalah ‘mendukung para calon ibu yang memiliki garis keturunan yang baik’… Karena jika ibu dan ayah dari bayi tersebut sama-sama ‘sehat secara keturunan’, maka anak yang dilahirkan akan ‘berharga’. Oleh karena itu, Lebensborn memberikan perlindungan praktis bagi para calon ibu di rumah-rumah persalinan, di mana enam di antaranya didirikan dalam dua tahun pertama keberadaannya. Hingga 31 Desember 1938, 653 ibu menggunakan rumah bersalin Lebensborn. Tingkat kematian bayi di rumah-rumah bersalin tersebut adalah 3 persen, yang merupakan setengah dari rata-rata nasional,” jelas sejarawan Lisa Pine dalam Nazi Family Policy, 1933-1945.
Para pejabat Nazi yang berperan dalam Lebensborn mendorong para simpatisan dan pria-pria SS untuk berkontribusi dalam lembaga ini. Mereka juga membuka kesempatan bagi para wanita yang memenuhi kriteria “ras unggul” untuk berpartisipasi, meski banyak pula pendaftar yang ditolak setelah menjalani pemeriksaan. Program ini merupakan proyek kesayangan Himmler. Ia memberikan nasihat kepada panti-panti tersebut mengenai pola makan yang benar bagi para wanita, memastikan tempat itu mendapat perlakuan prioritas selama perang dalam hal jatah barang-barang mewah seperti buah segar. Ia juga menjadi ayah baptis bagi setiap anak Lebensborn yang lahir pada hari ulang tahunnya (7 Oktober), yang secara rutin ia berikan hadiah, terutama uang yang disetorkan ke dalam rekening tabungan.
Baca juga:
Albert Speer Arsitek Kebanggaan Nazi
Hildegard Trutz menjadi salah satu wanita yang lolos serangkaian pemeriksaan untuk bergabung dengan Lebensborn. Sebagai pengagum Hitler dan penganut Sosialisme Nasional yang penuh semangat, ia merasa terhormat dapat melayani Der Führer untuk mewujudkan visi “Jerman baru yang lebih baik”. Dalam sebuah wawancara tahun 1946 dengan jurnalis Louis Hagen, Hildegard menggambarkan pengalamannya dalam proyek Lebensborn setelah pemimpin BDM setempat mendorongnya untuk tinggal di sebuah rumah dan memiliki anak untuk mendukung persediaan anak bangsa.
Pada 1936, setelah menjalani pemeriksaan administrasi –pengecekan dokumen atau sertifikat keturunan Arya sampai ke kakek-nenek buyut– Hildegard dan teman-teman wanitanya diobservasi oleh dokter SS. Para gadis diminta membuat pernyataan resmi tidak pernah ada kasus penyakit keturunan, dipsomania, atau keterbelakangan mental dalam keluarga mereka. Setelah itu, mereka menandatangani perjanjian hukum yang menyatakan tak akan menuntut hak atas anak-anak yang mereka lahirkan yang akan dirawat oleh negara.
Selama menjadi bagian dari Lebensborn, Hildegard dan para gadis tinggal di kastil tua yang diubah menjadi asrama mewah dan pusat Lebensborn di Tegernsee, Bavaria. Sekitar 40 perempuan muda tinggal di sana, di mana hanya sedikit dari mereka yang pernah merasakan kemewahan seperti itu. Mereka dilayani oleh para pelayan dan ditawari makanan terbaik. Fasilitasnya tak kalah mengesankan, dilengkapi ruang musik, gymnasium, dan bioskop. Bagi para gadis kelas pekerja dan kelas menengah yang terbiasa membantu ibu melakukan pekerjaan rumah, rasanya sangat menyenangkan dimanjakan dan diperlakukan layaknya selebritas.
“Para dokter SS yang memeriksa dan mengawasi kehamilan percaya bahwa pembuahan akan lebih mungkin berhasil jika perempuan merasa rileks dan bersedia melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang dipilihnya… Atas dasar ini, para gadis didorong untuk saling mengenal dengan pria yang akan menjadi partner mereka sebelum dipasangkan. Meski begitu mereka dilarang mengungkapkan nama asli masing-masing. Satu-satunya yang diberitahukan kepada para gadis tentang pasangan mereka adalah bahwa mereka adalah perwira SS. Beberapa di antara pria itu sudah menikah,” tulis Roland.
Hildegard memilih seorang pemuda tampan yang tinggi dan mengesankan secara fisik, tetapi bukan yang paling cerdas di antara pria yang ada. Sepuluh hari setelah periode menstruasinya berakhir, ia menjalani pemeriksaan medis sekali lagi sebelum mendapat persetujuan untuk tidur bersama pasangannya. “Karena saya dan ayah dari anak saya percaya sepenuhnya akan pentingnya apa yang kami lakukan, kami tidak memiliki rasa malu atau hambatan apa pun,” kata Hildegard kepada Hagen sebagaimana dikutip Roland.
Baca juga:
Kisah Cinta Tragis di Masa Pendudukan Nazi
Untuk meningkatkan peluang keberhasilan pembuahan, mereka melakukan hubungan seksual selama tiga malam berturut-turut, kemudian pasangan Hildegard dikirim untuk tidur dengan gadis lain. Setelah kehamilannya dikonfirmasi, ia dipindahkan ke rumah sakit bersalin dan dipantau selama sembilan bulan ke depan.
Proses persalinan bukan hal yang mudah dilalui oleh gadis muda seperti Hildegard. Terlebih ia melakukannya tanpa obat bius karena penggunaan bahan kimia dikhawatirkan akan berdampak buruk pada anaknya. Tetapi, Hildegard menerimanya sebagai bagian dari pengorbanan untuk Tanah Air. Dua minggu setelah melahirkan anak laki-laki yang sehat, Hildegard menyerahkan putranya kepada perawat dan tak pernah melihatnya lagi.
Walaupun Himmler maupun Hildegard memandang Lebensborn sebagai tujuan mulia untuk kebaikan bangsa mereka, lembaga ini tak sepenuhnya diterima oleh masyarakat Jerman. Menurut Pine, Lebensborn dan kegiatannya telah menjadi subjek kontroversi yang cukup besar. Pada saat itu, rumah Lebensborn tidak populer di kalangan masyarakat Jerman pada umumnya, terutama di daerah pedesaan yang beragama Katolik. Mereka tidak puas dengan pemakluman resmi dan bahkan dorongan untuk melahirkan anak di luar nikah. Akibatnya, segala macam rumor beredar tentang rumah Lebensborn. Di antaranya rumah-rumah Lebensborn disebut “peternakan pejantan” untuk SS.
Oleh karena itu, ketika propaganda merekrut banyak gadis untuk berkontribusi di Lebensborn, banyak orang tua tidak mengizinkan putri mereka berpartisipasi dalam kegiatan yang tidak lebih dari prostitusi yang disponsori oleh negara. Atas dasar ini pula Hildegard merahasiakan keikutsertaannya di Lebensborn dari kedua orang tuanya.
“Hildegard khawatir orang tuanya tidak akan setuju, sehingga ia memutuskan untuk merahasiakan keterlibatannya dan mengatakan kepada mereka bahwa ia akan pergi ke luar negeri untuk mempelajari ideologi politik,” tulis Roland.
Baca juga:
Sentimen negatif ditunjukkan oleh perwira SS bernama Ernst Trutz yang menikah dengan Hildegard beberapa bulan setelah kembali ke Berlin usai melahirkan putranya. Ia tak merasa bangga atau terhormat memiliki istri yang telah melahirkan putra untuk pasukan elite Hitler. Meski begitu ia tak dapat mengkritiknya secara terbuka karena Hildegard melakukan itu untuk Hitler.
Menurut Roland, Nazi sangat mementingkan peran ibu dalam Tatanan Baru mereka. Mereka menghadiahi medali bagi ibu yang paling subur dan membujuk gadis-gadis muda (yang sebagian besar belum menikah) untuk berhubungan dengan anggota SS, untuk menghasilkan anak-anak ras unggul –berambut pirang dan bermata biru– untuk mengisi barisan mereka. Namun, usaha ini gagal dengan hanya 8.000 bayi yang lahir di rumah bersalin di Jerman dan 10.000 di Swedia.
“Hasil yang didapatkan oleh ‘pusat-pusat reproduksi’ tambahan di Norwegia, Belgia, Luksemburg, Denmark, dan Prancis tidak diketahui. Secara keseluruhan, hasil yang agak buruk untuk investasi sebesar itu,” tulis Roland.*