Masuk Daftar
My Getplus

Asam Garam Jacksen F. Tiago di Indonesia (Bagian II - Habis)

Alkisah sengkarut Jacksen F. Tiago dengan agen sepakbola di awal kiprahnya hingga jadi pahlawan di "Kota Pahlawan".

Oleh: Randy Wirayudha | 30 Mei 2024
Jacksen Ferreira Tiago yang melegenda sebagai pemain dan pelatih di persepakbolaan Indonesia (borneofc.id)

USIA Jacksen F. Tiago sudah menginjak 26 tahun ketika pertamakali tiba di Indonesia pada Desember 1994. Berkeluarga juga sudah dan dia pernah sekali menjalani operasi lutut. Ia datang sebagai satu dari tujuh legiun asing asal Brasil yang dibawa Angel Ionita, agen sepakbola dari International Sport Associaton.  

“Awal kedatangannya ke Indonesia adalah karena dia ditipu oleh agen pemainnya. Sebetulnya Jacksen dijanjikan bermain di Liga Malaysia tapi baru dijelaskan oleh agen tersebut bahwa Jacksen rupanya akan bermain di Indonesia,” tulis Dhion Prasetya dalam Persebaya and Them: Jejak Legiun Asing Tim Bajul Ijo.  

Sebagaimana kebanyakan orang asing, pengetahuan Jacksen tentang Indonesia nyaris nol. Terlebih serba-serbi persepakbolaan negeri yang berjarak lebih dari 15 ribu kilometer dari “Tanah Samba” itu. Ia hanya tahu Bali sebagai destinasi wisata yang kondang di mata dunia.   

Advertising
Advertising

“Tapi saya memilih tetap bertahan. Lagipula nanggung kalau kembali ke Brasil. Dicoba dulu. Kalau tak cocok nanti bisa pulang,” kenang Jackson kepada Koran Tempo, 2 Maret 2005. 

Baca juga: Kisah Luciano Leandro Adu Nasib Lintas Benua  

Cerita yang sama juga terjadi pada kompatriot Jacksen, Luciano Leandro, setahun berselang. Dengan agen yang sama, Luciano bersedia ikut ke Indonesia karena sedikit-banyak mendengar kabar tentang Indonesia. Keduanya pernah satu tim di Valeriodoce Esporte Clube pada 1993. 

“Jacksen sering kontak-kontak, komunikasi. Jacksen teman saya dari dulu. Kita semua diurus Ionita. Waktu itu tidak fair. Waktu di Brasil mereka janji kita sesuatu. Waktu kita datang ke Indonesia, mereka tidak ikuti apa mereka bikin janji sama kita,” kata Luciano kepada Historia medio September 2019.  

Toh Jacksen tetap bertahan. Dalam sebuah konsorsium di Jakarta, Jacksen bersama Carlos de Mello yang juga asal Brasil direkrut Petrokimia Putra untuk tampil di putaran kedua Liga Indonesia (Ligina) I 1994-1995. Kolaborasinya bersama De Mello, Widodo C. Putro, ditambah kiper tangguh asal Trinidad and Tobago, Darryl Sinnerine, membawa Petrokimia menembus partai final walau harus puas sebagai runner-up usai kalah 0-1 dari Persib.  

Baca juga: Asam Garam Jacksen F. Tiago di Indonesia (Bagian I)

Walau ditipu dan awalnya tak tahu-menahu soal sepakbola Indonesia, Jacksen lama-kelamaan kerasan. Selain merasa nyaman dengan keramahan orang Indonesia, sosok yang pada Selasa (28/5/2024) lalu resmi menginjak usia 55 tahun itu juga takjub akan gairah penggila sepakbolanya. 

“Suporter Indonesia lebih bagus daripada Brasil. Passion orang Indonesia terhadap sepakbola mengalahkan orang Brasil, jauh sekali. Saya lihat di Brasil pada laga-laga tertentu (tim besar) saja seperti Flamengo itu memang full (kapasitas). Tapi kalau di Indonesia semua (tim) pasti penuh. Seperti yang saya lihat di GBK (Stadion Gelora Bung Karno) seperti laga final (Ligina I),” tutur Jacksen dalam kesempatan berbeda di siniar Sportcast77: “Jacksen F. Tiago Buka-bukaan di Depan Mamat Alkatiri dan Coach Riphan!!” di Youtube Sport77 Official, 19 September 2022.  

 

Sengkarut Agen hingga jadi Pahlawan 

Debut Jacksen di Ligina I rupanya membuatnya jadi “komoditas” bermutu tinggi buat sang agen sehingga menimbulkan kekisruhan. Akibatnya, Jacksen absen di putaran pertama Ligina II musim 1995-1996. Padahal sejumlah klub besar mulai mengincarnya, dari Petrokimia yang ingin memperpanjang kontrak, PSM Makassar yang kebetulan sudah mendatangkan Marcio Novo dan Luciano, hingga Persebaya. 

 “Putaran peratma kalau kalian lihat Ligina II, saya tidak bermain. Seharusnya di Ligina II saya ke Persebaya juga. Waktu itu setelah Ligina I ada persoalan saat mau sign (perpanjangan) kontrak, Petro dan saya sudah mau deal juga. Terus saya pulang ke Brasil karena rencananya mau bawa keluarga ke sini,” tambah Jacksen. 

Saat Jacksen sudah tiba di Brasil, sang agen menolak pengajuan perpanjangan kontrak Petrokimia. Sang agen ditengarai ingin menawarkan Jacksen pada klub yang lebih tinggi penawarannya. 

“Karena itu tadi, ada konsorsium. Mungkin sudah ada kerjasama dengan orang federasi dan dia block saya bermain di Indonesia. Dia bilang kepada klub-klub Indonesia yang mau rekrut saya (via faksimile), bahwa saya mengalami sebuah kecelakaan dan kaki saya enggak bisa main bola lagi,” imbuhnya. 

Terpaksa Jacksen mencari klub kasta rendah Brasil untuk menyambung kariernya. Akan tetapi sebelum resmi direkrut sebuah klub Brasil, manajemen Persebaya mengontaknya secara langsung untuk menanyakan perihal kabar kecelakaan tersebut yang mulanya tidak diketahui Jacksen.  

“Saya minta orang Persebaya itu tolong kirim fax itu. Kalau saya punya fax itu, bisa saya urus di sini. Setelah itu saya ke CBF (federasi sepakbola Brasil) di Rio dan saya hubungi lawyer di sana. Setelah dia baca, dia bilang, ‘Kamu pergi. Apapun yang terjadi, saya bantu kamu. Kamu berhak bermain di sana’,” tambah Jacksen. 

Jacksen lalu diminta datang ke Persebaya dengan ongkos perjalanan yang akan di-reimburse oleh manajemen klub. Jacksen pun memberi bukti pada sesi-sesi tryout bahwa ia dalam keadaan sehat ‘wal afiat’ dan tidak seperti hoaks yang diberitakan agennya. Tak lama, publik sepakbola Indonesia pun gempar dengan kembalinya Jacksen dari Brasil. 

“Nah PSM tahu ada saya di situ. PSM cari saya dan Luciano menghubungi saya. Saya bilang tidak bisa karena sudah di Persebaya. Nah PSM hubungi agen saya. Entah apa yang agen saya lakukan, tiba-tiba di-cut sehingga saya harus balik ke Brasil untuk menghadapi agen dan lawyer CBF. Nah di situ PSM deal, kasih uang kepada agen dan akhirnya saya enggak bisa main di Persebaya. Saya mainnya dengan PSM,” lanjutnya. 

Baru di putaran kedua Jacksen bergabung ke skuad Juku Eja bersama Luciano, Novo, dan Antonio Claudio. Lagi-lagi Jacksen hanya mampu membawa PSM sampai partai final karena kalah 0-2 dari Mastrans Bandung Raya.  

“Masuk final lagi tapi gagal lagi lawan Bandung Raya. Nasibnya (kalah dari) Bandung terus, tapi itulah garis hidup. Di final itu sempat hujan lebat dan (kiper Bandung Raya) Hermansyah punya penampilan luar biasa. Saya shoot dari berbagai sudut dia tetap bisa (menghalau),” tambahnya. 

Di musim berikutnya, Ligina III (1996-1997), barulah Jacksen benar-benar “berjodoh” dengan Persebaya. Klub yang makin melejitkan namanya sebagai salah satu legiun asing yang melegenda dalam persepakbolaan Indonesia hingga kini.  

“Ligina III saya akhirnya balik ke Surabaya. Jadi juara, top score, segala hal saya dapat sampai bonusnya dapat istri (kedua) ‘wong Suroboyo’. Saya dapat berkat yang lebih besar,” papar Jacksen. 

 Saat itu Ketum Persebaya H. Sunarto Sumoprawiro alias Cak Narto sedang ingin melakukan perombakan karena di musim sebelumnya hasil yang didapat Persebaya tak memenuhi target. Persebaya pun membangun “Dream Team” yang berisi para punggawa tim Jawa Timur yang menjuarai Pekan Olahraga Nasional 1996 ditambah legiun-legiun asing berkualitas yang sedang dibidik. 

 “Cak Narto pun tak main-main dalam merekrut pemain asing. Ujung tombak yang menjejak partai final dua kali berturut-turut, Jacksen F. Tiago, ditambah Carlos de Mello dan Justin Pinheiro da Silva juga direkrut,” sambung Dhion. 

 Jacksen berkisah bahwa sebelumnya manajemen Persebaya sempat bimbang memilih playmaker sesama Brasil yang bisa bekerjasama dengan Jacksen. Pilihannya antara De Mello dan Luciano Leandro. 

 “Mereka (manajemen) suruh saya pilih untuk Persebaya. Saya tidak ingin pilih siapapun, cuma saya kasih pandangan secara jujur saja. Luciano skill-nya jauh di atas Carlos. Tapi kalau Anda mau seseorang yang bisa mengangkat kolektivitas tim, Carlos adalah figur yang tepat. Setelah itu mereka pilih Carlos. Padahal Luciano sudah datang ke Surabaya buat negosiasi dengan mereka,” terang Jacksen. 

Pilihan klub untuk mengikuti saran Jacksen tak keliru. Persebaya pun tampil moncer sejak di babak grup Wilayah Timur hingga mencapai final kontra Bandung Raya. Pada momen itu Jacksen untuk ketiga kalinya tampil di final berturut-turut meladeni tim asal Bandung. Hebatnya, kali itu ia bisa melakukan “revans”.  

“Kiprah Papi Jacko (sapaan Jacksen, red.) di musim 1996-1997 luar biasa. Duetnya di lini depan bersama Reinald Pietersz amat menakutkan. Di partai puncak Persebaya menggulung Bandung Raya, 3-1, dan Jacksen menyumbang satu gol. Jacko (total) mencetak 26 gol dan berhak atas trofi sepatu emas dan hadiah uang Rp15.000.000. Dalam catatan, anak-anak asuhan Rusdy Bahalwan itu juga mencetak 82 gol dan hanya kebobolan 25 gol,” lanjut Dhion. 

Saat Indonesia dihumbalang Prahara 1998 dan liga dihentikan, Jacksen mencari peruntungan di luar Indonesia. Dia bergabung dengan Guangzhou Matsunichi di China pada 1998 dan Geylang United di Singapura setahun berselang. Saat liga sudah kembali berjalan, Jacksen comeback ke Persebaya hingga 2000. Dia akhirnya gantung sepatu pada 2001 di Petrokimia Putra yang notabene klub pertamanya di Indonesia.  

Karena tak bisa jauh dari sepakbola, Jacksen yang sudah punya lisensi kepelatihan beralih karier ke tepi lapangan. Ia memulainya dengan membesut tim internal Persebaya, Assyabaab Surabaya, pada 2002. 

“Saat Persebaya tertatih-tatih di putaran pertama (musim) 2002-2003, manajer tim Haruna Sumitro menunjuk Jacksen sebagai pelatih kepala menggantikan Muhammad Zein Alhadad. Penunjukan ini sempat diremehkan publik Surabaya yang meragukan kinerja Jacksen karena memang baru saja mendapatkan lisensi melatih pada 2002,” tambah Dhion. 

Namun keraguan Bonek, suporter fanatik Persebaya, berubah menjadi apresiasi setelah Jacksen sukses membawa Persebaya kembali naik dari Divisi I ke Divisi Utama Liga Indonesia 2003. Tidak hanya berhasil membawa Persebaya juara Divisi Utama Liga Indonesia 2004, Jacksen dihormati publik Surabaya karena sering mengorbitkan pemain-pemain muda dari akademi klub maupun klub-klub internal Persebaya sebagai langkah regenerasi tim, seperti Choirul Anam, Slamet Nur Cahyo, Eki Sabilillah, Aulia Tri Hartanto, ataupun Nugroho Mardianto. 

Rupanya Jacksen juga jadi sosok jempolan saat sudah pelatih karena berturut-turut ia direkrut untuk membesut tim-tim besar lain seperti Persita Tangerang (2006), Mitra Kukar (2008), Persipura Jayapura (2008-2014). Pada 2019-2021, Jacksen bahkan membawa Persipura meraih mahkota juara Indonesia Super League (ISL) musim 2008-2009, 2010-2011, dan 2013. Sejak Januari 2024, jasa Jacksen masih dibutuhkan Borneo FC sebagai direktur Akademi Borneo FC. 

TAG

sepakbola persebaya legiun-asing brasil

ARTIKEL TERKAIT

Mula Finalissima, Adu Kuat Jawara Copa América dan Piala Eropa Ayrton Senna dalam Kenangan Persija Kontra Salzburg di Lapangan Ikada Sebelas Ayah dan Anak di Piala Eropa (Bagian II – Habis) Cerita di Balik Kedatangan Pele ke Indonesia Sebelas Ayah dan Anak di Piala Eropa (Bagian I) Luka Lama Konflik Balkan di Gelanggang Sepakbola Eropa Ketika Pele Dimaki Suporter Indonesia Pele Datang ke Indonesia Aneka Maskot Copa América (Bagian II – Habis)