Masuk Daftar
My Getplus

Asam Garam Jacksen F. Tiago di Indonesia (Bagian I)

“Terdampar” ke Indonesia gegara di-prank agen sepakbola, Jacksen F. Tiago enggan lempar handuk dan memilih mempertaruhkan segalanya.

Oleh: Randy Wirayudha | 29 Mei 2024
Jacksen Ferreira Tiago yang sejak 2001 gantung sepatu lalu beralih jadi pelatih (pssi.org)

TIDAK sedikit pesepakbola legendaris yang tak pernah bisa jauh dari urusan permainan si kulit bundar. Jacksen F. Tiago bukan pengecualian. Selepas gantung sepatu pada 2001, hingga kini ia tetap berkecimpung di dunia sepakbola. Sebagai pelatih.

Padahal, kalau dari segi usia saat pensiun, 33 tahun, Jackson terbilang masih cukup “muda” bila dibandingkan legiun asing lain di jagat persepakbolaan Indonesia. Keith Kayamba Gumbs asal St. Kitts and Nevis yang melegenda di Sriwijaya FC pensiun di umur 41 tahun pada 2013. Cristian Gonzales asal Uruguay yang sejak 2010 menjadi warga negara Indonesia (WNI) bahkan yang kini hampir 50 tahun usianya juga belum mau pensiun.

“Kalau saya merasa sudah tidak bisa bersaing di satu tempat, saya harus cari hal lain di mana saya masih bisa bersaing. (Pensiun) ini sudah waktu yang tepat dan beralih jadi pelatih karena saya juga selalu fokus pada masa depan,” kata Jacksen di siniar Sportcast77: “Jacksen F. Tiago Buka-bukaan di Depan Mamat Alkatiri dan Coach Riphan!!” di Youtube Sport77 Official, 19 September 2022.

Advertising
Advertising

Kondisi fisik merupakan faktor yang membuatnya sudah tak bisa bersaing lagi. Jacksen mengaku, sebelum datang dari Brasil ke Indonesia pada 1994, ia sebenarnya juga sudah punya cedera lutut kambuhan. 

“Dokter operasi di Brasil bilang bahwa saya harus gym setiap hari untuk (pengkondisian) lutut saya. Sampai tiba di sebuah masa di mana saya sudah tidak punya motivasi lagi melakukan itu. Makanya sebelumnya saya sudah mempersiapkan diri jadi pelatih,” imbuhnya.

Maka pada 2001 saat masih berseragam Petrokimia Putra, Jacksen tutup buku kariernya sebagai pemain. Kebetulan ia mengakhirinya di klub yang notabene juga merupakan klub pertamanya di Indonesia Divisi Utama Liga Indonesia (Ligina) I 1994-1995.

Baca juga: Garrincha dari Pabrik Tekstil ke Pentas Dunia

Jacksen F. Tiago semenjak dini sudah menggeluti sepakbola (Facebook Papi Jacko)

Berjuang dari Favela, Berjaya di Indonesia

Lahir di Rio de Janeiro, Brasil pada 28 Mei 1968, Jacksen Ferreira Tiago, sebagaimana anak-anak Brasil lain, punya mimpi untuk mengangkat derajat kehidupan keluarga lewat sepakbola. Ia memang lahir di Rio, namun jangan bayangkan Rio yang glamor karena ia tumbuh di salah satu favela (kawasan kumuh) di pusat kota Rio.

Jacksen mendapat kesempatan meniti kariernya bersama tim akademi CR Flamengo pada usia tujuh tahun. Karier profesional baru dimasuki Jacksen pada 1984 di klub Brasil kasta bawah, Bosucesso FC. Pada 1993, Jacksen rupanya pernah satu tim dengan legiun asal Brasil lainnya, Luciano Leandro, saat berkarier di Valeriodoce Esporte Club. Kelak keduanya satu tim lagi di PSM Makassar pada Ligina II 1995-1996.

“Di Valerio itu saya sempat bermain bersama Jacksen tapi tidak lama. Lalu saat saya masih bermain untuk Bangu, ada agen yang memantau saya,” kenang Luciano kepada Historia medio September 2019.

Baca juga: Kisah Luciano Leandro Adu Nasib Lintas Benua

Kedatangan Jacksen dan Luciano memang berbeda setahun. Namun agennya tetaplah orang yang sama, Angel Ionita asal Swiss berdarah Rumania. Jacksen masuk dalam radar agen yang berbasis di naungan International Sport Association itu saat masih bermain di klub Rubro SEC pada 1994.

“Sebenarnya waktu itu ada beberapa pemain, tujuh orang, termasuk saya yang agennya sama. Dia (Ionita) tawarkan akan dibawa ke luar negeri. Dia tidak sampaikan ke mana,” sambung Jacksen.

Ketujuh pemain itu, imbuh Jacksen, mulanya akan dibawa ke Portugal, namun batal. Sang agen lalu menjanjikan akan membawa mereka untuk bermain di Malaysia. Namun saat sampai di Singapura setelah penerbangan dari Brasil, rupanya mereka kena prank karena pada akhirnya Indonesia yang jadi tujuan, bukan Malaysia, apalagi Portugal.

“Waktu itu ada saya, Carlos de Mello, Da Costa, Gomes de Oliveira dan tiga orang lagi, kita semua down karena enggak pernah dengar tentang sepakbola di Indonesia. Di Brasil kita tahu Indonesia hanya Bali. Lalu kita berunding karena ada yang mau pulang saja. Saya sendiri langsung sampaikan bahwa saya stay. Apapun yang terjadi saya akan coba,” tambahnya.

Baca juga: Mimpi Juara Luciano Leandro Diraih di Ibukota

Dari tujuh pemain, akhirnya hanya lima yang bersedia terbang ke Jakarta. Mereka datang ke Indonesia belum punya klub. Yang terjadi mirip perdagangan manusia, bahwa mereka datang ke sebuah konsorsium bersama para legiun asing lain dari Eropa Timur, Afrika, dan Amerika Selatan lain untuk kemudian dipilih oleh klub-klub yang datang ke konsorsium itu.

“Ya ada semacam konsorsium, kita datang dan ada beberapa klub seperti NBA Draft. Mereka melihat kita lalu memilih mau pemain yang ini, ini, ini. Saya sama Carlos pilihan terakhir dari Petrokimia Putra. Pak Imam Supardi (pengurus klub) dia cerita bahwa dia melihat Carlos de Mello seperti bencong, lihat saya seperti petinju, masak bisa main bola. Ternyata di antara semua pemain (di konsorsium) itu, saya sama Carlos yang mampu bawa timnya sampai final meskipun penampilan awalnya tidak meyakinkan,” kata Jacksen.

Toh meski sudah ditipu agen, Jacksen tak ingin menyalahi nasibnya. Kebetulan, para pemain Petrokimia juga menyambutnya dengan hangat, terutama Widodo C. Putro yang cukup lancar berbahasa Inggris.

“Awal kedatangannya ke Indonesia memang karena dia ditipu oleh agen pemainnya. Untungnya tidak ada masalah berarti di awal kariernya itu karena menurut Jacksen, orang Indonesia mirip sekali dengan orang Brasil, humoris dan ramah,” tulis Dhion Prasetya dalam Persebaya and Them: Jejak Legiun Asing Tim Bajul Ijo.

Baca juga: Legiun Asing Persebaya

Di putaran kedua musim 1994-1995 itu, Petrokimia juga diperkuat sejumlah pemain jempolan. Selain Widodo C. Putro dan Jacksen F. Tiago, tim besutan Andi Muhammad Teguh itu juga dihiasi playmaker flamboyan Carlos de Mello dan palang pintu tangguh di mistar gawang asal Trinidad dan Tobago, Darryl Sinnerine. Petrokimia sampai jadi juara grup wilayah timur dan lolos ke Babak 8 Besar.

“Padahal di debut saya melawan Gelora Dewata, saya masih ingat, 19 Januari 1995 (28 Januari, red.), saya disambut kecurangan wasit. Pada pertandingan pertama saya itu, kita kalah (1-0) karena gol tangan (handball) Vata Matanu. Sambutan pertama dapat nasib seperti itu,” kenang Jacksen lagi.

Jacksen F. Tiago (nomor punggung 18) saat di final Ligina I kontra Persib Bandung (Facebook Papi Jacko)

Di Babak 8 Besar Grup B pun Jacksen cs. tak terkalahkan meski tergabung bersama Persib Bandung, Assyabaab SGS, dan Medan Jaya. Di semifinal, Petrokimia sukses menyingkirkan Pupuk Kaltim, 1-0, untuk bertemu Persib lagi pada laga final di Stadion Senayan (kini Stadion Utama Gelora Bung Karno) di Jakarta, 30 Juli 1995.

“Sayang di partai pamungkas ini Jacksen dkk. harus puas sebagai runner-up kompetisi. Petro takluk 1-0 melalui gol tunggal striker ‘Maung Bandung’ Sutiono Lamso. Sebetulnya Jacksen sempat mencetak gol penyeimbang. Sayang gol ini dianulir oleh wasit Zulkifli Chaniago karena posisi Jacksen dianggap telah offside,” tambah Dhion.

Begitulah nasib Jacksen di debut kariernya di Indonesia. Ditipu agen, diremehkan pengurus klub, serta merasa dicurangi wasit di laga perdana dan terakhirnya di musim itu. Sampai sekarang Jacksen menganggap golnya ke gawang Persib yang dikawal Anwar Sanusi itu sah dan tidak offside.

“Dia (wasit) bilang offside dan saya tanya karena saya ingin tahu apa yang terjadi. Saya tahu posisi saya tepat ketika menyambut bola itu dan tidak offside tapi wasit (menyatakan) offside. Sampai sekarang di manapun orang masih bahas gol saya dianulir daripada gol penentu kemengangan Persib. Itu jadi kemenangan pribadi buat saya meskipun kita enggak dapat piala tapi saya merasa seperti people’s champion, membuktikan jasa saya tidak sia-sia,” tukasnya.

Baca juga: Serba-serbi Aturan Offside dalam Sepakbola

(Bersambung)

TAG

sepakbola brasil legiun-asing

ARTIKEL TERKAIT

Mula Finalissima, Adu Kuat Jawara Copa América dan Piala Eropa Ayrton Senna dalam Kenangan Persija Kontra Salzburg di Lapangan Ikada Sebelas Ayah dan Anak di Piala Eropa (Bagian II – Habis) Cerita di Balik Kedatangan Pele ke Indonesia Sebelas Ayah dan Anak di Piala Eropa (Bagian I) Luka Lama Konflik Balkan di Gelanggang Sepakbola Eropa Ketika Pele Dimaki Suporter Indonesia Pele Datang ke Indonesia Aneka Maskot Copa América (Bagian II – Habis)