Masuk Daftar
My Getplus

Jejak Peradaban di Sepanjang Sungai Batanghari

Jejak peradaban banyak ditemukan di sepanjang Sungai Batanghari. Salah satunya Kompleks Percandian Muarajambi.

Oleh: Risa Herdahita Putri | 04 Nov 2020
Candi Astano yang berada di dalam gugusan Percandian Muarajambi dan pemandangan Sungai Batanghari di dekatnya. (Robby Kurniawan/Shutterstuck).

Di Jambi, Sungai Batanghari adalah yang terpanjang. Mengalir sejauh 800 km, sungai ini menembus wilayah Jambi dari hulunya di Gunung Rasan, Sumatra Barat, kemudian bermuara di pantai timur Sumatra ke Laut Cina Selatan.

Di sepanjang alirannya, jejak perdaban masa lalu banyak ditemukan, seperti Koto Kandis, Muarajambi, Padang Roco, Pulau Sawah, dan Solok Sipin. Beberapa di antaranya bahkan dipilih oleh penguasa Melayu menjadi pusat pemerintahan.

Junus Satrio Atmodjo, arkeolog dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nasional, menjelaskan kehidupan di kawasan Sungai Batanghari sudah sangat tua. “Pengaruh prehistori kita dapatkan sampai ke Kerinci. Ada pengaruh dari Tiongkok juga. Ditemukan keramik-keramik dari masa Dinasti Han, abad ke-3,” jelasnya.

Advertising
Advertising

Baca juga: Usaha Menemukan Muarajambi

Artinya, kata Junus, hubungan dunia luar dengan masyarakat di pedalaman Jambi sudah ada pada abad ke-3. Sungai Batanghari adalah jalannya.

“Permukiman yang dulu kita bayangkan jauh di pedalaman, dikelilingi hutan, ternyata juga masih bisa berkomunikasi dengan dunia luar,” lanjut Junus.

Jalur Penghubung

Pada abad ke-7, seorang biksu asal Tiongkok pun sudah berlayar sampai ke negeri bernama Mo-lo-yeu. Lokasi yang ia datangi banyak dihubungkan dengan wilayah Situs Muarajambi, di Muaro Jambi, Jambi sekarang.

“Ia menyusuri pantai timur Sumatra, berhenti di suatu tempat, naik perahu yang lebih kecil. Artinya, ia menyusuri sungai ke pedalaman,” jelas Junus. “Yang paling memungkinkan ya Muaro Jambi.”

Baca juga: Mengunjungi Tempat Belajar I-Tsing

Di sana ditemukan banyak keramik asing. Yang tertua misalnya dari masa Dinasti Tang abad ke-8 hingga ke-9. Sementara keramik asing terbanyak adalah dari masa Dinasti Sung, abad ke-11 hingga ke-13.

“Kami juga temukan pecahan kaca yang datangnya dari Timur Tengah, lalu benda-benda yang kami perkirakan, benda logam dari India,” jelas Junus.

Jambi ketika itu telah menjadi salah satu pelabuhan yang ramai dikunjungi kapal asing. Beberapa produk Jambi misalnya emas, damar, dan pinang menarik minat banyak pedagang. Produk ini merupakan komoditas ekspor yang dikumpulkan dari wilayah pedalaman.

Hasil alam itu mendorong Jambi menjadi wilayah yang berkembang. “Bukan hanya bicara soal mendatangkan barang dari luar ke Jambi, tapi Jambi sendiri adalah produsen,” ujar Junus.

Ibu Kota di Tepi Sungai

Sungai Batanghari berperan sebagai jalan utama jaringan pengepul kecil di wilayah hulu. Di antaranya Kerinci sebagai penghasil beras, emas, dan hasil hutan. Kemudian lokasi yang kini disebut Situs Candi Padang Roco, di Jorong Sei Langsek, Kenagarian Siguntur, Kecamatan Sitiung, Sumatra Barat.

Menurut arkeolog Budi Istiawan dalam tulisannya, “Jejak Sejarah dan Kepurbakalaan Dharmasraya”, Menguak Tabir Dharmasraya, lokasi Sei Langsek yang dekat dengan Sungai Batanghari dan relatif datar sesuai untuk permukiman. Pun ketinggiannya dari permukaan Sungai Batanghari, kurang lebih 160 m dari permukaan air laut, membuatnya terhindar dari bahaya banjir.

Baca juga: Dharmasraya, Kerajaan Kuno di Sumatra Barat

Di sana ditemukan Prasasti Dharmasraya. Prasasti ini ada pada alas Arca Amoghapasa yang dikirim Kertanegara di Singhasari sebagai tanda persahabatan untuk Kerajaan Melayu dan rajanya, Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa pada 1286

“Arca tersebut kemudian didirikan di Dharmasraya, suatu tempat yang sangat penting artinya, yang kemungkinan adalah pusat pemerintahan,” jelas Budi.

Lokasi lainnya adalah apa yang dikenal sebagai Situs Percandian Pulau Sawah. Kawasannya masih termasuk ke dalam Kabupaten Dharmasraya. Wilayah ini ramai pada abad ke-12 hingga ke-14. Di sana ada lebih dari 11 struktur bangunan bata, arca, dan keramik.

“Kawasan Pulau Sawah lebih banyak difungsikan sebagai lokasi pemujaan kepada para dewa, baik Hindu maupun Buddha,” jelas Budi. “Wilayah Dharmasraya adalah penghasil emas dan hasil hutan.”

Dengan melihat hasil temuan itu, arkeolog senior Bambang Budi Utomo dalam “Ranah Minang dan Kerajaan Melayu”, Menguak Tabir Dharmasraya pun berpendapat, Kerajaan Melayu yang lokasi geografisnya di daerah lembah Batanghari, paling tidak tiga kali berpindah ibu kota. Awalnya di wilayah hilir Sungai Batanghari, yaitu di mana Jambi kini berada, lalu bergeser ke arah hulu, di wilayah Provinsi Sumatra Barat.

“Pemindahan (ibu kota, red.) yang kedua mungkin berlangsung sebelum 1286 (berdasarkan Prasasti Dharmasraya, red.),” jelasnya.

Baca juga: Menolak Penaklukkan Jawa atas Malayu

Adapun pusat yang ketiga berada di daerah pedalaman di Barusangkar dan Pagaruyung, Tanah Datar, Sumatra Barat. Berdasarkan temuan Prasasti Pagaruyung III dan Saruaso I, diperkirakan Adityawarman masuk ke daerah Tanah Datar pada 1347 dan memerintah di sana sampai 1375. Secara geografis daerah itu dekat dengan jalan air yang lain, yaitu Sungai Kampar Kiri dan Sungai Indragiri.

Menurut Bambang, jika dibandingkan dengan Sungai Batanghari, muara kedua sungai ini lebih dekat dengan Selat Malaka. “Emas dari daerah pedalaman kemudian dipasarkan keluar Melayu melalui sungai-sungai ini,” jelasnya. 

Pada era ini, Kerajaan Melayu mencapai puncaknya. Logam emas dimanfaatkan semaksimal mungkin. “Sumber emas ini dikelola oleh penguasa Melayu dan dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan kerajaan,” lanjut Bambang.

Keuntungan

Memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah pedalaman memang banyak keuntungan. Dari segi keamanan, daerah pedalaman dinilai tak mudah dijangkau oleh gangguan, terutama bajak laut. Pasalnya alirannya takkan bisa dilalui perahu besar.

Kontrol terhadap sumber alam di pedalaman sekaligus jalur distribusinya pun bisa diperoleh kalau berdiam di wilayah pedalaman. Gusti Asnan, guru besar sejarah Universitas Andalas, Padang dalam Sungai dan Sejarah Sumatra berpendapat dengan memiliki pusat pemerintahan dan aktivitas niaga di pinggir sungai pada kawasan yang mengarah ke pedalaman, membuat sang penguasa bisa memiliki kendali maksimal terhadap pergerakan orang dan barang.

Baca juga: Teknologi Pemindai Muarajambi

Tak cuma hal ekonomi, perkembangan agama pun terpengaruh. Tentunya akan lebih mudah mendatangkan bahan bangunan ketika percandian didirikan di tepi sungai. Pun memudahkan bagi komunitas keagamaan yang hendak mendatanginya. Tujuan lainnya agar para peziarah mudah mendapatkan air. Sebab, air sangat penting dalam sejumlah ritual agama.

“Aliran dan muara sungai memegang peran penting dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan agama,” catat Gusti Asnan.

Gusti Asnan menegaskan bahwa sungai adalah faktor sejarah di Sumatra. Di masa lalu sungai merupakan jalan raya tempat sebagian besar warga Sumatra berlalu lintas dan mendistribusikan barang. Ini yang membuat permukiman, termasuk tempat peribadatan, kerap terkonsentrasi di sepanjang aliran sungai.

TAG

sriwijaya mencariperadabanyanghilang menemukanperadabanhilang melayu mencarijejakperadabannusantara muarajambi lidar lidar 2020

ARTIKEL TERKAIT

Cerita dari Negeri Segantang Lada Arab dan Tiongkok Berebut Rempah di Riau Tanpa Pajak, Palembang Kaya Catatan Tentang Kerajaan Tulang Bawang Ibnu Sutowo dan Para Panglima Jawa di Sriwijaya Pasukan Jepang Merebut Kuala Lumpur di Musim Durian Pesan Toleransi dari Muarajambi Menggali Peradaban Muarajambi Menemukan Kembali Peradaban yang Hilang dengan Lidar Teknologi Pemindai Muarajambi