Masuk Daftar
My Getplus

Para Pramugari Garuda di Sisi Sukarno

Bung Karno pernah jatuh hati kepada beberapa pramugari. Ada yang menolak namun ada pula yang berhasil diperistri. Siapa saja mereka?

Oleh: Martin Sitompul | 14 Des 2019
Bung Karno bersama Kartini Manoppo (tengah), Irma Ottenhof (kiri), dan Baby Huwae (kanan). (Ilustrasi: Fernando Randy/Historia.)

Kecantikan dan aura pramugari memang bisa mempesona siapa saja. Karyawati yang menjadi kru pesawat ini dilatih untuk melayani penumpang. Selain piawai melayani penumpang, pramugari juga dituntut berpenampilan menarik. Bertubuh jenjang semampai, pintar, mampu berbahasa asing, dan jago berdandan biasanya kualifikasi yang harus dimiliki setiap pramugari. 

Figur sekaliber Presiden Sukarno pun pernah kecantol dengan pramugari. Perempuan itu bernama Kartini Manoppo, gadis asal Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Pertemuan pertama Sukarno dan Kartini Manoppo berlangsung di atas udara dalam suatu penerbangan pada 1958. Bung Karno menumpang pesawat Garuda menuju Malang untuk meresmikan proyek pabrik tenun di Batu Ceper. Di saat yang sama, Kartinilah yang menjadi pramugarinya. Tiada kesan istimewa dalam pandangan pertama, kecuali Kartini mendapat kenang-kenangan berupa sehelai kain tenun Malang dari Bung Karno usai penerbangan itu.

Baca juga: Awal Profesi Pramugari di Indonesia

Advertising
Advertising

Selain berprofesi sebagai pramugari Garuda, Kartini juga seorang model. Dia pernah dilukis oleh pelukis sohor Basuki Abdullah. Pada 1959, Basuki Abdullah mengadakan pameran yang dihadiri Presiden Sukarno. Saat itulah Sukarno melihat wajah cantik Kartini terlukis dalam kanvas Basuki Abdullah. Sukarno kesengsem lalu jatuh hati.

Atas permintaan Bung Karno, Kartini yang sudah berhenti dari Garuda langsung ditempatkan di pesawat resmi kepresidenan Dolok Martimbang. Mulailah Kartini mendampingi Sukarno dalam setiap penerbangan ke berbagai tempat. Hingga suatu ketika, Sukarno menyatakan cintanya kepada Kartini sembari menyatakan niatan untuk mengambilnya sebagai istri.

“Bung Karno meminang saya dalam keadaan sebagai manusia biasa. Bung Karno tidak memaksa. Ia meminta dengan tutur kata yang sopan, dengan senyum dan pandangan mata yang sulit untuk saya lupakan sampai sekarang ini,” tutur Kartini Manoppo dalam majalah Info No. 78, 31 Juli 1978.

Baca juga: Hartini, First Lady yang Tak Diakui

Pernikahan Sukarno dengan Kartini menghasilkan buah hati bernama Totok Suryawan. Kendati demikian, Totok tidak sempat melihat ayahnya. Situasi politik memaksa Kartini melahirkan di luar negeri. Totok lahir di Jerman pada 1967 saat Sukarno berada di penghujung kekuasaan.

Irma yang Menolak

Jurus cinta Sukarno terhadap pramugari yang ditaksir tidak selamanya manjur.  Irma Ottenhoff Mamahit adalah pramugari Garuda asal Minahasa lainnya yang ditaksir oleh Bung Karno. Seperti umumnya perempuan Minahasa, Irma memiliki paras manis. Dia diterima sebagai pramugari pesawat kepresidenan Dolok Martimbang pada awal 1960.

Bung Karno menyadari keberadaan Irma. Dalam suatu kesempatan, Irma pernah mendapati bahwa sang presiden mengagumi dirinya. Irma tampil anggun dengan mengenakan kebaya.

Baca juga: Pramugari yang Menolak Cinta Sukarno

“Irma, kau cantik sekali. Selalu kau pakai kain kebaya, dan pakaian nasional itu membuat pribadimu tampak lebih cantik,” kata Bung Karno, ditirukan Irma, dalam wawancaranya kepada Kartini edisi 6-19 Agustus 1979.   

Berkali-kali terbang bersama, Sukarno pun kecantol. Sayangnya, Irma enggan membalas perasaan Sukarno. Irma mengatakan tidak tertarik dengan pria yang usianya jauh lebih tua seperti Bung Karno. Dia juga tidak bersedia masuk dalam deretan istri-istri Sukarno. Kendati demikian, setelah menolak Sukarno, Irma malah menerima pinangan dari seorang duda yang usianya jauh diatasnya. Hal ini tentu saja bikin Bung Karno kecewa.

Calon Berikutnya: Baby Huwae  

Selain Kartini Manoppo dan Irma Ottenhof, ada lagi Baby Huwae. Nama lengkapnya Baby Constance Irene Theresia Huwae. Baby memiliki darah campur keturunan Jawa, Maluku, dan Jerman. Dia masih terhitung keponakan Menteri Kesehatan Gerrit Siwabessy.

Perkenalan Baby dengan Sukarno bermula di Bandung, pada1958. Saat itu, Baby di usianya yang masih SMP menjadi peragawati dalam peragaan batik sekalgus pembukaan taman hiburan dan kolam berenang Karang Setra di Bandung. Dalam pertemuan itu, Baby belum berprofesi sebagai pramugari. Namun Bung Karno sudah terpikat melihat Baby yang masih belia.

Bertahun berselang, nama Baby melambung sebagai selebriti tanah air setelah sukses membintangi film Asrama Dara karya sineas kenamaan Usmar Ismail. Bung Karno lantas memanggil Baby sowan ke Istana. Kepada Baby, Bung Karno menanyakan apa cita-citanya yang langsung dijawab oleh sang gadis: pramugari. Menyadari potensi dan kecantikannya, Bung Karno menawarkan kesempatan kepada Baby untuk menjajal karier sebagai pramugari di pesawat kepresidenan Dolok Martimbang.

Baca juga: Ratna Assan, Perempuan Berdarah Indonesia Pertama yang Tampil di Majalah Playboy

Kendati mendapat fasilitas berupa jalur pintas dari presiden, langkah Baby berkiprah di Dolok Martimbang terkendala. Orang tuanya menginginkannya merampungkan sekolah lebih dahulu. Impian itupun akhirnya harus pupus.

“Sejarah berkata lain,” ujar Baby Huwae dikutip Erka dalam Bung Karno: Perginya Seorang Kekasih, Suamiku, dan Kebangganku, “Karena orang tua tidak setuju maka saya tak jadi pramugari dan juga tak jadi terus main film.” Meski mereka gagal terbang bersama, Sukarno memberikan nama Indonesia bagi Baby Huwae: Lokita Purnamasari.

 

 

 

TAG

sukarno pramugari garuda indonesia

ARTIKEL TERKAIT

Dolok Martimbang, Pesawat Kepresidenan Indonesia Pertama Lima Tokoh Bangsa Bibliofil Nasib Pelukis Kesayangan Sukarno Setelah 1965 Problematika Hak Veto PBB dan Kritik Bung Karno Guyonan ala Bung Karno dan Menteri Achmadi Pejuang Tanah Karo Hendak Bebaskan Bung Karno Rencana Menghabisi Sukarno di Berastagi Supersemar Supersamar Yang Tersisa dari Saksi Bisu Romusha di Bayah Kemaritiman Era Sukarno