Mo dan Potret Pengungsi Palestina yang Merindukan Negerinya

Dengan humor tajam dan storytelling yang menyentuh hati, serial “Mo” mengeksplorasi emosi dalam setiap dinamika kultur mereka yang dianggap asing. 

Oleh: Randy Wirayudha | 12 Feb 2025
Mo dan Potret Pengungsi Palestina yang Merindukan Negerinya
Serial "Mo" yang terinspirasi dari kehidupan nyata keluarga aktor dan stand-up comedian asal Palestina, Mohammed Mustafa Amer (Netflix)

LEPAS dari satu masalah, Mohammed ‘Mo’ Najjar (diperankan Mohammed Amer) terjerat problematika lain yang membuatnya mesti berurusan lagi dengan otoritas keimigrasian Amerika Serikat. Hakim pengadilan kota Houston memutusnya bersalah dan memvonisnya “deportasi”. Tetapi ke mana ia bisa pergi, sebab statusnya masih pengungsi Palestina pencari suaka tanpa kewarganegaraan? 

“Itu artinya kau akan tetap di sini karena kau stateless walau harus diawasi,” cetus Lizzie Horowitz (Lee Eddy), kuasa hukum Mo. 

Mo tentu tak bisa keluyuran begitu saja tanpa pengawasan. Keluar dari ruang persidangan, ia digiring opsir badan penegakan imigrasi dan cukai Amerika, ICE, ke ruangan lain. Mo dipaksa sang opsir mengenakan alat monitor engkel sampai batas waktu yang tak ditentukan. 

Advertising
Advertising

“Dia (Mo) sudah lama tinggal di Amerika dan tak punya catatan kriminal, kenapa juga Anda harus mewajibkannya mengenakan monitor engkel?” Lizzie protes. 

“Perintah hakim,” jawab opsir. 

“Sampai kapan dia harus mengenakannya?” desak Lizzie. 

“Sampai ‘Simon Berkata’,” kata opsir ketus.

Baca juga: Sabra, Superhero Israel Sarat Kontroversi 

Adegan greget yang menguji kesabaran itu hanya satu dari sekian perlakuan diskriminatif berbau xenofobia yang dialami Mo di season ke-2 serial Mo. Serial drama-komedi garapan duet sineas Solvan Naim dan Mohammed Amer ini berangkat dari keresahan Mo dan keluarganya yang merupakan sudah lebih dari dua dekade mengungsi sekaligus mencari suaka. 

Mo sudah dibawa keluarganya mengungsi ke Amerika sejak kecil. Mulanya keluarga besar kedua orangtuanya terusir dari Haifa pada Peristiwa Nakba (1948) seiring pendudukan Israel ke Burin di Tepi Barat. Mo sendiri lahir di Kuwait sejurus ayahnya bekerja di sebuah perusahaan minyak. Mereka akhirnya melarikan diri ke Houston, Texas via Paris ketika Kuwait diiinvasi Irak dalam Perang Teluk (1990-1991). 

Ketika Mo remaja, ayahnya wafat karena serangan jantung hingga membuat Mo harus dewasa lebih cepat. Ia jadi pengganti kepala rumah tangga untuk membantu kehidupan ibunya, Yusra Najjar (Farah Bseiso), dan kakak laki-lakinya yang menderita autisme, Sameer Najjar (Omar Elba), lantaran kakak perempuannya, Nadia Najjar (Cherien Dabis), sudah hidup terpisah dengan suaminya asal Kanada. 

Adegan Mo bersama para imigran Meksiko menyeberangi perbatasan secara ilegal (Netflix)

Konflik di season ke-1 dipicu oleh pemecatan Mo oleh bosnya, Abood Rahman (Bassem Youssef), dari toko gawai karena takut digerebek ICE jika ketahuan mempekerjakan pengungsi tanpa dokumen legal. Mo terpaksa menjajakan barang-barang palsu secara diam-diam hingga menyambi bekerja di pekerbunan buah zaitun. 

Namun, nahas menghampiri Mo. Hanya karena ingin mengejar para pencuri, dia dan Nick (Tobe Nwigwe), sahabatnya yang juga imigran asal Nigeria, malah diculik kartel pencuri pohon zaitun hingga dibawa ke Meksiko. Sementara Nick yang sudah punya paspor Amerika bisa kembali, Mo yang tanpa kewarganegaraan terpaksa luntang-lantung enam bulan tinggal di rumah bibi pacarnya, Maria (Teresa Ruiz), sembari jadi penjaja falafel-taco dan jadi pegulat amatir. 

Baca juga: Kala Penduduk Gaza Terusir, Peristiwa Nakba Terulang Lagi?

Tak tahan di Meksiko, Mo lalu nekat ikut rombongan imigran ilegal Meksiko. Ia tepergok milisi penjaga perbatasan dan digelandang ke pusat penahanan ICE hingga kemudian diadili. 

Sementara ibu dan adiknya akhirnya mendapat status suaka dan bisa bepergian untuk menengok keluarganya di Tepi Barat, Palestina, Mo masih harus menanti status hukumnya yang tak kunjung usai gegara kasus pelanggaran perbatasan tadi. Kegetiran hati Mo bertambah ketika tahu sang kekasih memilih putus dan punya pacar baru seorang chef Israel yang punya restoran elite di Houston. 

Bagaimana Mo menghadapi segala rintangan yang membuatnya harus berikhtiar ekstra keras dan tak lupa berserah diri kepada Allah SWT? Saksikan sendiri serial Mo yang sudah ditayangkan Netflix sejak 24 Agustus 2022 (season 1) dan 30 Januari 2025 (season 2). 

Pengacara Lizzie Horowitz (kiri, depan) yang mendampingi keluarga Mo untuk mendapatkan status pencari suaka dan kewarganegaraan (Netflix)

Terinspirasi Kisah Nyata Emosional 

Perpaduan dua budaya dan tiga bahasa dalam setiap kecerobohan yang konyol begitu mengocok perut dan sisi gelap perlakuan diskriminatif serta xenofobia terhadap Mo dan keluarganya jadi faktor utama laman Rotten Tomatoes memberi Mo rating 100 persen. Sinematografinya begitu kentara mengeksplorasi perpaduan budaya dan maskulinitas yang toxic di baliknya, sembari diiringi music scoring bernuansa latin dan Arab-Palestina sebagai pengingat akar budaya dan leluhur Mo yang terusir dari tanah sendiri akibat pendudukan zionis. 

Mulanya, penonton akan dibawa memahami setiap culture shock beserta pemakluman hingga berujung pada perasaan berdamai keluarga Mo sebagai keluarga pengungsi Arab Palestina yang beragama Islam selama tinggal di Houston. Mulai dari keresahan Yusra terhadap Mo yang mencintai gadis Meksiko beragama Katolik, perdebatan kuliner Palestina yang diklaim Israel, hingga keluarga Mo berbesar hati diwakili Lizzie, pengacara imigrasi yang seorang Yahudi asal Polandia, berikut dengan aneka kekonyolan akibat ulah-ulah Mo yang ceroboh ketika berhubungan dengan pengedar narkoba hingga disekap kartel Meksiko. 

“Tetapi Mo juga tidak menghindar dari latar belakang politik. Mo dan keluarganya selalu diterpa problematika yang disebabkan dari pendudukan hingga harus menahan diri dan menebalkan kesabaran dari segala prasangka orang-orang kulit putih terhadap muslim Palestina,” tulis kolumnis Judy Berman di kolom Time, 3 Februari 2024, “Netflix’s Mo Is the All-American Palestinian-Refugee Comedy Everywone Should Watch”. 

Baca juga: Meretas Mimpi dari Kamp Pengungsi lewat Captains of Zaatari

Serial Mo masih begitu relate dengan keadaan sekarang akibat kebijakan “tangan besi” Presiden Donald Trump terhadap imigran bermasalah. Salah satunya dalam adegan-adegan Mo dihadapkan pada soal-soal pengurusan administrasi keimigrasian dan penegakan hukum keimigrasian yang diskriminatif. 

“Apa kau pikir Allah (SWT) peduli status atau paspor apa yang kau bawa? Hamoodi (sapaan kecil Mo), dunia akan selalu berusaha menjatuhkan kita. Dan ketika mereka berusaha melakukannya, kita tersenyum. Karena kita tahu siapa diri kita sebenarnya,” tutur Yusra ketika menenangkan Mo. 

Pun dengan keadaan genosida terhadap penduduk sipil Gaza sejak 7 Oktober 2023 dan pemukiman ilegal yang tak kunjung usai di Tepi Barat. Terdapat adegan-adegan Yusra yang tak berhenti menengok berita-berita tentang kekejaman Israel di Palestina menjelang “mudik” ke Tepi Barat.

“Dan kita berutang kepada mereka untuk terus melanjutkan hidup. Segalanya bergantung pada kita untuk meneruskan tentang siapa diri kita kepada anak-anak kita. Dengan begini mereka takkan bisa menghapus kita, betapapun kerasnya mereka coba. Kita adalah bangsa yang lebih dari sekadar rasa sakit dan penderitaan, Bu,” giliran Nadia menenangkan ibunya. 

Momen Mo meradang setelah mantan pacarnya memilih lelaki Israel (Netflix)

Penonton akan dibawa lebih emosional ketika keluarga Mo akhirnya bisa menjejakkan kaki lagi di negerinya, Palestina. Terlepas dari keadaan pasukan pendudukan yang terus merongrong warga Palestina di Tepi Barat, Mo setidaknya “menapak tilas” berbagai masa lalu dan apa-apa saja jasa yang ditinggalkan ayahnya di Palestina untuk warga sekitar. 

Kamera video dan kaset-kaset lawas jadi “penjembatan” bahwa di balik kekonyolan dan kegetiran kisahnya terinspirasi dari kehidupan pribadi Amer, sang aktor utama cum penulis naskah dan co-sutradaranya. Tak segan Amer menyisipkan cuplikan asli video lawas mendiang ayahnya. 

Baca juga: Yang Terpendam dalam Lagu "Atouna el Toufoule"

Segala hal yang diceritakan mengenai ayah dari karakter Mo adalah kisah nyata ayah Amer. Tentang bagaimana sang ayah bekerja di perusahaan minyak di Kuwait, Mo yang lahir di Kuwait pula pada 24 Juli 1981, hingga bagaimana sang ayah tak bisa ikut Mo bersama ibu dan kakak-kakaknya mengungsi ke Amerika karena ayahnya keburu ditangkap dan disiksa pasukan Irak seiring Perang Teluk. 

“Walaupun saya aslinya tak pernah kena tembak atau kecanduan (obat pereda nyeri) codeine. Setelah kami syuting adegannya (pengungkapan dokumen penyiksaan sang ayah), semua orangnya begitu tersentuh dan hampir semua sulit menatap mata saya,” tutur Amer berkisah di siniar The Awardist, dikutip Entertainment Weekly, 8 April 2023. 

Adegan keluarga Mo "mudik" untuk bertemu para sanak-saudara di Tepi Barat, Palestina (Netflix)

Amer beserta ibu dan kakak-kakaknya mengungsi dari Kuwait ke Houston, Texas ketika usia Amer baru menginjak 9 tahun. Sang ayah baru menyusul beberapa tahun kemudian usia dibebaskan tapi Amer tak punya banyak kenangan lain mengingat sang ayah yang seorang akademisi biokimia wafat pada 1995. Amer baru menemukan “obat” bagi kedukaannya yang berkepanjangan berupa komedi usai menyaksikan penampilan stand-up comedian senior, Bill Cosby. 

“Ayah saya hanya bisa membersamai kami (di Houston) selama dua tahun setelah kami meninggalkan Kuwait dan kemudian kami kehilangan dia. Saya meninggalkan hampir semuanya, termasuk soal sekolah saya. Sampai kemudian saya menonton show-nya Bill Cosby dan di situlah saya tahu bahwa saya akan menjadi komedian,” kenang Amer dalam kesempatan berbeda, dikutip The Guardian, 27 Maret 2009. 

Baca juga: Kanvas Kehidupan Seniman Palestina Fathi Ghaben

Dengan mengasah bakat secara otodidak di beberapa comedy club di Houston, perlahan tapi pasti Amer naik daun. Bahkan tak jarang ia sering diundang untuk menghibur militer Amerika yang ditempatkan di Timur Tengah, termasuk Kuwait dan Irak, negeri yang sempat menuai masa lalu tertentu bagi hidupnya. 

“Baghdad cukup menyeramkan. Saya masih tak bisa percaya kenyataan di mana saya menginap di Istananya Saddam (Hussein), yang berubah menjadi hotel. Auranya begitu aneh. Anda masih bisa mengendus udara arogansi di dalamnya,” tambahnya. 

Pun cerita tentang bagaimana sulit dan rumitnya Mo mendapatkan status pencari suaka dan melewati sistem-sistem birokrasi untuk mendapatkan paspor Amerika, Amer sendiri baru mendapatkan status kewarganegaraan Amerika pada 2009. Sebelumnya ia hanya bisa bepergian dengan membawa dokumen perjalanan khusus pengungsi. 

“Kehidupan saya juga bak dunia terbalik saat peristiwa 9/11 (Serangan 11 September 2001, red). Terlepas dari terdapat beberapa kemarahan yang ditujukan pada saya, saya berusaha tetap menjadi duta komedi dan tetap memperkenalkan kultur saya kepada Amerika. Hingga akhirnya baru pada 2009 saya resmi jadi warga negara Amerika yang membolehkan saya berperjalanan ke Amman (ibukota Yordania) sebagai titik temu bersua paman, para sepupu, dan para bibi (asal Palestina) yang sudah 20 tahun tak saya temui,” tandas Amer, dilansir Comedy Scene in Houston, 31 Desember 2012. 

Deskripsi Film: 

Judul: Mo | Sutradara: Solvan Naim, Mohammed Amer | Produser: Ramy Youssef, Ravi Nandan, Hallie Sekoff, Harris Danow, Luvh Rakhe, Mohammed Amer | Pemain: Mohammed Amer, Teresa Ruiz, Farah Bseiso, Tobe Nwigwe, Lee Eddy, Omar Elba, Cherien Dabis, Michael Y. Kim, Moayad Alnefaie, Bassem Youssef, Matt Rife | Produksi: A24, Mo Productions, Cairo Cowoboy | Distributor: Netflix | Genre: serial drama-komedi | Durasi: 23-31 menit/episode | Rilis: 24 Agustus 2022-30 Januari 2025 (Netflix).

TAG

film palestina israel zionisme nakba

ARTIKEL TERKAIT

Islam di Asia-Afrika Mendukung Palestina No Other Land Potret Nyata Pembersihan Etnis Sistematis di Palestina Tujuh Petenis yang Berseragam Pasukan Zionis Korps Wanita yang Menghadapi Dua Front Sengkarut Tawa dan Sendu dalam Memoir Seorang Guru Jalan Perjuangan Tak Berujung dalam Perang Kota Empat Film Korea Selatan yang Menggambarkan Darurat Militer Senna Si Raja Lintasan Basah The Children’s Train dan Nasib Anak-anak Korban Perang di Italia Mengenal Tang Soo Do dari Cobra Kai