Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Penistaan Agama Pada Masa Lalu

Jauh sebelum kasus Ahok, tuduhan penistaan agama pernah terjadi pada awal abad ke-20. Sarat muatan politik.
 
HOS Tjokroaminoto dan Semaoen.
Historia
pengunjung
230.8k

Oposisi Semaoen terhadap Tjokroaminoto telah dimulai semenjak mencuat persoalan pengelolaan keuangan di dalam pengurus pusat Sarekat Islam (CSI, Central Sarekat Islam). Kendati akhirnya meminta maaf atas tuduhannya, Darsono, salah satu pemimpin Sarekat Islam Semarang menuduh Tjokroaminoto menyalahgunakan wewenangnya sebagai ketua CSI.

Perdebatan makin meluas ketika CSI di bawah Tjokroaminoto turut menyetujui keanggotaan di dalam Volksraad (Dewan Rakyat), semacam parlemen bentukan pemerintah Belanda. Menurut Semaoen Volksraad tak lebih “komedi omong” belaka. Dari 19 anggota Volksraad yang terpilih, “tida ada satoe wakil dari ra’jat’ dan “tida ada satoe jang oleh kromo boleh dibilang ‘penekat’ jang menjerahkan djiwanja,” tulis Semaoen dalam “Antie Indie Werbaar, Antie Militie dan 3de National Congres Sarekat Islam”, Sinar Djawa, 1918, sebagaimana dikutip dari Berbareng Bergerak: Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaoen karya Soewarsono.

“Volksraad adalah omong kosong,” ujar Semaoen, “Boekan Volksraad jang akan bisa bikin baik nasibnja ra’jat, tapi gerakannja ra’jat sendiri,” kata dia melanjutkan.

Abdoel Moeis, wakil CSI di dalam Volksraad, menampik tuduhan Semaoen. Menurut Moeis, sebagaimana ditulis oleh Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, partisipasi di dalam Volksraad memungkinkan partai untuk mengemukakan pandangannya tentang berbagai masalah dan untuk membela hak-hak rakyat.

Konflik jadi semakin runcing saat Tjokroaminoto ditunjuk pemerintah kolonial sebagai anggota Volksraad pada 23 Februari 1918, sehari sebelum aksi protes terhadap Martodharsono berlangsung. Upayanya untuk meminta persetujuan cabang-cabang SI terganjal sikap oposisi dari para pengurusnya. Mas Marco Kartodikromo, jurnalis terkemuka yang tiga tahun sebelumnya sempat kena hukuman penjara atas kritiknya kepada pemerintah kolonial, pun kerap menyindir Tjokroaminoto sebagai “Ksatria di bawah perlindungan pemerintah”.

Sementara itu muncul pula gagasan Indie Werbaar (aksi pertahanan Hindia Belanda) yang lagi-lagi ditentang oleh pengurus cabang SI Semarang. Usulan Indie Werbaar merespons situasi dunia yang sedang dilanda perang dunia I serta kekhawatiran menjalarnya perang hingga Hindia Belanda. Semaoen cum suis menolak ide tersebut karena tak sepantasnya rakyat Hindia Belanda membela tanah airnya yang justru sedang dijajah oleh tuan-tuan kolonial Belanda.

Berbagai macam serangan politik yang dilancarkan terhadap kepengurusan CSI pimpinan Tjokroaminoto itu perlahan-lahan mendelegitimasi perannya. Popularitas Tjokroaminoto yang berkibar-kibar di masa awal pendirian Sarekat Islam dirongrong dari dalam: sebagian SI lokal menjadi kelompok oposan, terutama cabang Semarang.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
HOS Tjokroaminoto dan Semaoen.
HOS Tjokroaminoto dan Semaoen.