Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Mengapa NU Keluar dari Masyumi?

NU merasa diperlakukan tidak adil dalam Masyumi. Sikap tidak menghormati ulama dan jatah menteri agama menjadi alasan NU meninggalkan Masyumi.
Kampanye Partai NU dalam Pemilu 1971.
Historia
pengunjung
7.9k

Mohammad Saleh, walikota Yogyakarta yang juga tokoh Masjumi (dari Muhammadiyah), bikin perkara. Dalam Kongres Masyumi di Yogyakarta pada Desember 1949, dia menyindir para kiai.

“Politik adalah luas. Politik ini saudara-saudara, tidak bisa dibicarakan sambil memegang tasbih, jangan dikira scope-nya politik ini hanya di sekeliling pondok dan pesantren saja. Dia luas menyebar ke seluruh dunia,” kata Saleh.

Terang saja orang-orang Nahdlatul Ulama tak terima. Mereka protes keras dan menuntut Saleh mencabut perkataannya. Saleh bergeming. Sekitar 30 orang NU pun meninggalkan ruang kongres.

Dalam Kongres, menurut sebagian kalangan NU, ada di antara peserta yang tak memperlihatkan rasa hormat kepada ulama. Peserta ini menganggap lulusan sekolah Belanda lebih superior ketimbang lulusan sekolah agama.

Dalam kongres itu Mohammad Natsir terpilih sebagai ketua umum dan para pendukungnya memenangkan mayoritas kursi di Dewan Pimpinan Partai. Sukiman Wirjosandjojo, yang lebih disukai NU karena dianggap moderat dan luwes, didudukkan sebagai presiden partai, sebuah jabatan yang baru diciptakan namun kurang berpengaruh, dan banyak pengikutnya kehilangan kedudukan.

Dalam kongres itu pula NU merasa kian tersisihkan. Fungsi Majelis Syuro, yang berisi para kiai atau ulama, dipreteli dan menjadi hanya sebagai dewan konsultatif yang tak mempengaruhi kebijakan partai.

“Perubahan peran ulama dan Majelis Syuro ini merupakan penyebab utama pertikaian antara NU dan kelompok Natsir,” tulis Greg Fealy dalam Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967.

Kongres juga menolak usulan NU untuk mengubah struktur Masyumi. NU menuntut perubahan Masyumi menjadi suatu federasi dengan alasan hal itu akan menjamin pembagian kekuasaan yang lebih proporsional.

“Hubungan antara Masyumi dan NU tidak pernah pulih sejak peristiwa Kongres 1949,” tulis Fealy.

Kemarahan yang meluas di kalangan NU terhadap keputusan-keputusan kongres mendorong kelompok-kelompok di dalamnya mulai berkampanye tentang penarikan diri dari Masyumi.

 
Terpopuler di Historia 
Berita terkait
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Kampanye Partai NU dalam Pemilu 1971.
Kampanye Partai NU dalam Pemilu 1971.