Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 3

Mendekat Kepada Habib

Mereka mengajarkan agama tanpa meninggalkan usahanya. Tak dapat menghindari urusan politik.
 
Pada zaman pendudukan Jepang, Jakarta, 1943. (Inset): Haji Muhammad Abdul Muniam Inada di depan mimbar menguraikan cita-cita pemerintah Jepang yang terkait Islam.
Historia
pengunjung
19.4k

Pendukung Belanda

Bukan hal baru habib berkelindan dengan politik dan kekuasaan. Salah satu guru Habib Ali Kwitang, yakni Habib Usman bin Yahya (1822-1914), menjadi honorair adviseur (penasihat kehormatan) pemerintah kolonial. Dia dekat dengan penasehat pemerintah seperti C. Snouck Hurgronje, KF Holle, dan LWC van den Berg. Dia juga menentang gerakan Pan-Islamisme dan aliran mistis Islam karenanya menjadi musuh ulama pribumi.

Menurut Nico JG Kaptein dalam The Arabs in the Netherlands East Indies and The House of Orange, untuk menunjukkan loyalitasnya, Habib Usman membuat doa berbentuk puisi untuk Ratu Wilhemina ketika naik tahta pada 1898. Bahkan dia mengeluarkan fatwa berisi anjuran mengucapkan doa ini. Para bupati meneruskan fatwa ini kepada pejabat agama Islam (panghulu).

Kalangan nasionalis memprotes dan menuduh panghulu menggunakan Islam “bukan untuk menghormati Nabi Muhammad, tapi kafir ratu.” Protes juga datang dari orang-orang Arab yang berorientasi Pan-Islamisme.

Jika Habib Usman menjadi penasihat Belanda, Habib Abdul Rahman bin Muhammad az-Zahir justru menjadi hakim agung lalu patih di Kesultanan Aceh. Dia menjadi pemimpin tertinggi dalam Perang Aceh melawan Belanda. Menurut LWC van den Berg dalam Orang Arab di Nusantara, sadar bahwa keinginan rakyat Aceh untuk merdeka tak mungkin terwujud, dia mau meninggalkan perang asalkan digaji seumur hidup sebanyak 30.000 gulden. “Tawaran itu diterima oleh pemerintah Belanda dan sejak itu dia menetap di Mekah,” tulis van den Berg.

Lebih dari itu, orang-orang Hadrami berhasil menjadi penguasa: Habib Ali bin Usman bin Syihab (Sultan Siak), Habib Aidrus bin Abdul Rahman al-Aydrus (Sultan Kubu), dan Habib Syarif Abdul Rahman al-Gadri (Sultan Pontianak). Namun umumnya, para habib menjadi penasehat agama bagi penguasa, peran yang masih berlangsung hingga masa Orde Baru.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Pada zaman pendudukan Jepang, Jakarta, 1943. (Inset): Haji Muhammad Abdul Muniam Inada di depan mimbar menguraikan cita-cita pemerintah Jepang yang terkait Islam.
Pada zaman pendudukan Jepang, Jakarta, 1943. (Inset): Haji Muhammad Abdul Muniam Inada di depan mimbar menguraikan cita-cita pemerintah Jepang yang terkait Islam.