Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Mendekat Kepada Habib

Mereka mengajarkan agama tanpa meninggalkan usahanya. Tak dapat menghindari urusan politik.
Pada zaman pendudukan Jepang, Jakarta, 1943. (Inset): Haji Muhammad Abdul Muniam Inada di depan mimbar menguraikan cita-cita pemerintah Jepang yang terkait Islam.
Historia
pengunjung
16.8k

HARI masih pagi ketika Habib Ali bin Abdurahman al-Habsyi (1870-1968), lebih dikenal sebagai Habib Ali Kwitang, membuka tokonya di Tanah Abang Jakarta Pusat. Menjelang zuhur, dia menutup toko. Lalu, dia keliling kampung untuk menjual barang dagangannya sambil berdakwah.

Habib Ali Kwitang merajut hubungan dengan kiai dan pemuka masyarakat. Di rumahnya di Kwitang, dia mengadakan pengajian mingguan. Dia juga rutin menghelat acara maulid, perayaan ulang tahun Nabi Muhammad. Dalam mengelola pengajiannya, dia kemudian dibantu Habib Salim bin Jindan dan Habib Ali Alatas.

Di masa pendudukan Jepang, Habib Ali Kwitang menjalin hubungan dengan pemimpin nasionalis dan Jepang. Sementara Habib Salim Jindan memilih jalan berlawanan sehingga dipenjara karena menolak melakukan saikeirei, menghormati Kaisar Jepang dengan membungkukkan badan ke arah matahari terbit.

Era berganti, keduanya tetap tokoh yang disegani di kalangan elit politik maupun agama. Sukarno, misalnya, pernah berguru kepada Habib Salim bin Jindan mengenai agama Islam. Namun, itu bukan berarti dia tak berani mengkritik Sukarno. “Pada 1957 Ibnu Jindan menjadi pengkritik kuat Nasakom Sukarno, yang berpuncak pada sikap antikomunis,” tulis Ismail Fajrie Alatas, “Becoming Indonesians: The Ba’Alawi in the Interstices of the Nation”, dalamDie Welt des Islams, Vol. 51, tahun 2011.

Habib Ali Kwitang meninggal dunia pada 1968, sementara Habib Salim Jindan kurang dari setahun kemudian. Muhammad al-Habsyi menjadi penerus ayahnya.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda
Pada zaman pendudukan Jepang, Jakarta, 1943. (Inset): Haji Muhammad Abdul Muniam Inada di depan mimbar menguraikan cita-cita pemerintah Jepang yang terkait Islam.
Pada zaman pendudukan Jepang, Jakarta, 1943. (Inset): Haji Muhammad Abdul Muniam Inada di depan mimbar menguraikan cita-cita pemerintah Jepang yang terkait Islam.