Pilih Bahasa: Indonesia

Herklots, Agen Haji Tipu Jemaahnya

Para jemaah haji Indonesia ditipu agen dengan pemaksaan, pungutan liar, dan penelantaran. Sampai jatuh korban jiwa.
 
Jemaah haji naik ke kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia, 1925-1935.
Foto
Historia
pengunjung
8k

Ribuan jemaah umroh menjadi korban penipuan agen First Travel. Nilainya mencapai ratusan miliar. Penipuan oleh agen perjalanan ibadah ke Mekah juga pernah terjadi di masa kolonial Belanda. Pelakunya agen perjalanan haji The Java Agency milik Johanes Gregorius Marinus Herklots.

Untuk menjaring jamaah haji sebanyak-banyaknya, perusahaan haji itu menggunakan jasa pejabat lokal dan keluarganya sebagai tenaga pemasaran. Hadiahnya: pejabat itu plus keluarganya diberi tiket gratis ke Mekah. Salah satunya Wedana Cilegon bernama Entol Goena Djaja.

Tergiur dengan tiket haji gratis, para pejabat ini memakai kekuasaannya: memaksa rakyat yang hendak pergi haji untuk menggunakan perusahaan Herklots. Yang tak menggunakan perusahan itu, ditahan pas-nya (izin jalan, semacam paspor). Karena takut terhadap penguasa, dengan terpaksa banyak orang naik kapal Herklots sesuai perintah. Hasilnya, pada musim haji 1893, Herklots berhasil menjaring lebih dari 3.000 jamaah dari keseluruhan jamaah 8.092 orang.

Gubernur Jenderal di Batavia menerima banyak keluhan soal kebusukan agen haji milik Herklots. Konsul Belanda di Jedah juga memberitahukan kepada Gubernur Jenderal bahwa Herklots melakukan pungutan liar. Jamaah harus membayar tiket pulang yang telah ditetapkan f.95 plus f.500 sebagai jasa bagi Herklots. Konsul memohon kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Gubernur Jedah Ismail Haki Pasha supaya mendeportasi Herklots. Namun, keduanya tidak bisa mengabulkannya.

Dien Majid dalam Berhaji di Masa Kolonial mencatat pengalaman buruk Residen Cirebon R. Adiningrat menggunakan agen Herklots. Saat membeli tiket, dia dilayani oleh W.H. Herklots, adik J.G.M. Herklots. Adiningrat mesti membayar f.150 plus premi f. 7,50 per kepala; lebih mahal dari tarif pemerintah sebesar f.110. Padahal di reklamenya, Herklots menawarkan harga lebih murah hanya f.95 per orang. Sialnya lagi, menjelang tanggal keberangkatan haji, W.H. Herklots kabur dan dia berangkat ke Jedah menggunakan kapal De Taroba.

J.G.M. Herklots dan teman Arabnya, Syekh Abdul Karim, “penunggu Kabah”, juga menipu pihak berwenang Mekah dan memanfaatkan mereka untuk menjaring jamaah haji yang hendak pulang ke Hindia Belanda. Herklots memakai identitas palsu untuk bisa masuk Mekah, yakni Haji Abdul Hamid, pribumi Hindia Belanda beragama Islam. Identitas baru ini perlu karena orang-orang non-Muslim tak diperkenankan masuk Mekah.

Herklots menggunakan identitas palsu ini untuk mengajukan pinjaman pada Syarif Mekah. Syarif Mekah bersedia memberi pinjaman f.150.000 dengan dua catatan. Pertama, di kantor Herklots ditempatkan dua jurutulis Syarif Mekah, yang bertugas mengawasi kegiatan kongsi, terutama jumlah jamaah. Setiap sore mereka mengambil keuntungan sesuai perjanjian yang disepakati. Kedua, di pihak lain, para syeikh kepercayaan Syarif Mekah membantu Herklots mencari jamaah yang telah selesai menunaikan ibadah haji untuk pulang ke tanah air.

Dengan kesepakatan ini Herklots mendapat perlindungan. Dan dengan bantuan para syeikh, dia bisa leluasa menjaring para jamaah yang hendak pulang sementara agen-agen haji lain susah-payah mendapatkannya.

Di Mekah, para jemaah haji yang akan kembali ke Hindia Belanda dipaksa naik kapal api dari agen Herklots. Supaya tak pindah ke kapal lain, mereka diwajibkan membayar tiket sejak di Mekah. Mereka yang telah membayar mahal dibuat terlantar saat menunggu tanpa kepastian kapan kapal carteran Herklots dari Batavia datang. Mereka menunggu di tenda-tenda di lapangan terbuka tanpa fasilitas memadai.

Para jemaah itu mengadukan perlakuan buruk Herklots pada Konsulat Belanda di Jedah yang memaksa Herklots mengembalikan uang tiket tanpa menunggu kapal carteran. Herklots bersedia mengembalikan separo dari harga tiket. Selain keluhan keterlambatan dan penelantaran, banyak jemaah mengeluhkan kapal pengangkut. Samoa yang dipakai Herklots tak dirancang sebagai kapal penumpang. Akibatnya, dek atas dan bawah penuh penumpang dengan ventilasi yang buruk. Banyak penumpang jatuh sakit.

Kapal Samoa berangkat menuju Batavia pada 7 Agustus 1893 dan transit semalam di Aden. Setelah berlayar dua hari dari Aden, tepat hari Selasa sekira pukul 17.00, Samoa dihajar badai dahsyat. Kapten kapal tak memberi tahu akan datangnya badai. Seratusan orang meninggal dan dibuang begitu saja ke laut.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Jemaah haji naik ke kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia, 1925-1935.
Foto
Jemaah haji naik ke kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia, 1925-1935.
Foto